Secoretsajak, “laut”

Setiap percakapan kita adalah lautan, yang menjadi sisi pertemuan keraguan dan keyakinan yang begitu jauh ada di kedalaman kita.

Dan tatapanmu adalah debur yang yang mengikis resah

Dan setiap kata yang kau gerai, adalah yang selalu karam di dasar ingatan.

Karena aku adalah yang sebegitunya dangkal pada hampar yang dinamai daratan
Yang ketika dihadapanmu, memberanikani diri menggenang seperti lautan.

Advertisements

Secoretsajak, “tatapku”

Maaf

Baru detik ini aku sanggup melihatmu, dan segala yang temaram tak akan mampu menyamarkanmu

Aku kini melihatmu diantara yang mencemaskan dan meragukan

Dan ciuman pada halimun wajahmu adalah yang begitu lama

Aku kini bisa melihatmu, menulis kisah di kejauhan dan menghapus ketidaksampaian

Mungkin aku adalah kesiasiaan, karena aku sempat menaruh ingin pada apa yang sedianya tak mungkin

Dan aku pernah mengguris angan pada sederet ketidaksanggupan

Kini aku melihatmu, kau jauh sebegitunya namun baru aku dipeluk sadar, kau indah sungguh

Kini aku melihatmu diantara bait-bait malam yang tak mampu aku eja saat pulang

Kini aku melihatmu dan menghening disetiap riuhku

Kini aku melihatmu di antara nyanyian malam yang tak akan lama direnggut pagi

Kini aku melihatmu diantara yang nampak dan yang akan tertapak

Dan aku melihatmu mengirai segala yang kesukaran melandai

Dan aku melihatmu merakit titian, untuk ku titih langkah pulang

Dan kau duduk di pelantar impiku, menyimpan kata selamat datang.

Dan merengkuh kenangan kelam

Jelaga kota

Di tingkah cuaca mana aku mesti memintal pinta melebur kasih, agar rindu-rindu yang tersemat samar itu dapat tertingkap

Di tingkah cuaca kota yang tak pernah sanggup ditebak, kau pernah meninggalkan samar rindu ke dalam doa menikam malam gelap sunyi yang dipeluk lembah, gunung, laut yang merengkuh remang senja

Dan telah kunukilkan harap di bawah telapak hariku yang telah tersulut hening pada sudut jalan perumahan yang bercermin pada lalu-lalang

Di sebuaah perjalanan, kau pernah menunjuk persinggahan untuk semangkuk kaledo, yang kini hanya tinggal menjadi semangkuk rindu.

Pernah juga di sebuah bukit yang dinamai dari salaksa damai, kau nenunjuk ke arah barat, dan aku melihat dikejauhan tampak ada garis lengkung berwarna kuning yang menyatukan dua belah kota ini, seketika itu juga aku berdoa, “semoga percakapan malam itu seperti garis lengkung kuning itu, penyatu hal yang tak tentu

Adakah mesti aku harus menetak angan pada raga di lengkung teluk yang tak menyuguhkan sudut itu?

Di remang pagi aku lelah me meniti

Di temaram senja aku lelah merajut kata

Di remah angan, aku lelah merindu pelukan

Dan di kota ini, aku tanam ingatan

SKP-HAM Akan Rayakan Hari Jadi Ke-13 

Solidaritas Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) akan merayakan hari jadi ke 13 dengan tema ” 13 Tahun SKP HAM Merayakan Semangat Juang Penyintas”, Kamis (19/10/2017)

Nurlaela Lamasitudju, Sekjend SKP-HAM Sulteng, menjelaskan konsep yang diangkat dalam acara perayaan tersebut adalah Pertunjukan seni, diskusi kemanusiaan dan bazar sebagai bentuk apresiasi karya para penyintas dampingan SKP-HAM yang mengalami diskriminasi, dan dalam acara tersebut tidak membuka kritik atau saran.

“Harapannya di acara nanti akan ada apresiasi karya para penyintas korban pelanggaran HAM, dan kami tidak akan membuka kritik atau saran, karena mereka sudah sangat luar biasa dari pada kita yang tidak mengalami diskriminasi”  ungkapnya.

Karya dari para penyitas nanti akan di pamerkan dengan tema “Bazar Peduliku”, dan produk-produk kerajinan diantaranya tenun, rajutan dan kerajinan kerajinan lainnya. 

Dalam acara tersebut, juga akan diisi dengan pertunjukan musik dari penyanyi lokal, Sisi Laborahima dan Gio mandike. Sedangkan pembacaan puisi akan dibawakan olrh para pemuda Komunitas Puisi Harmoni (Kopi Harmoni) Kota Palu.

Ela juga menjelaskan bahwa dalam perayaan tersebuat akan ada diskusi kemanusiaan volume 02, dengan pola diskusi lebih luas membahas soal kemanusiaa.

“Kalau diskusi kemanusiaan volume 1 hanya fokus pada korban pelanggaran HAM 65-66, diskusi volume ini akan membahas diskriminasi HAM lebih luas” jelasnya.

Diantara penyintas yang didampingi oleh SKP-HAM yang akan didiskusian adalah ODHA, Difabel, korban KDRT, Trafficking (perdagangan manusia), korban pemerkosaan, eksploitasi seksual, dan lain sebagainya.

Ela juga menjelaskan bahwa para penyintas selain mengalami permasalahan diskriminasi sosial, mereka juga mengalami persoalan ekonomi.

“Permasalahan mereka sangat kompleks, sudah dikucilkan, mengalami keterbatasan fisik, dan masih harus nencari nafkah untuk kebutuhan mereka sendiri dan keluarga mereka, sehingga sudah tidak pantas ketika kita mengkritik mereka” tandasnya.

Sastra 

FAM Sulteng Adakan Sosialisasi Sastra di SMK dan SMA 

Forum Aktif Menulis (FAM) Sulawesi Tengah (Sulteng) melakukan sosialisasi Sastra kepada pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Palu dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Palu.

Ketua FAM Sulteng, Loddy Surentu, mengatakan bahwa Sosialisasi ini bertujuan untuk memperkenalkan sastra dan mencari bakat-bakat terpendam dari para pelajar SMK dan SMK Sulawesi tengah.
“Sosialisasi ini bertujuan untuk memperkenalkan sastra kepada siswa dan menggali bakat-bakat menulis dari para siswa, serta memperkenalkan FAM itu sendiri” tururnya, Kamis (12//10/2017).

Loddy juga menjelaskan bahwa sosialisasi tersebut juga mengajak siswa untuk bergabung di FAM dan untuk belajar menulis sastra dengan dibimbing oleh Sastrawan profesional sulawesi tengah.

“Kalau adik-adik belum bisa nenulis gak apa-apa, nanti akan dibimbing oleh sastrawan hebat suteng, jadi tenang aja” ujar Loddy dihadapan puluhan para siswa dalam sosialisasi tersebut.

Loddi juga menjelaskan bahwa karya tulis yang akan di hasilkan oleh para siswa nantinya akan dibukukan oleh Publising Fam sendiri dan buku tersebut dipastikan akan memilimi ISBN.

Selain untuk memperkenalkan sastra, Sosialisasi tersebut juga diharapkan dapat menumbuhkan jiwa-jiwa sastra anak muda sehingga nantinya dapat lahir banyak sastrawan di Sulteng.

Hal tentang pagi dan setelahnya

Disini

Aku sangat jarang bisa bangun pagi

Setidaknya pagi yang diukur dengan meremang menuju merahnya timur 

Bukan terbit, bukan terik
Disini

Di kota ini

Masih menyoal  pagi

Kurang lengkap rasanya jika tak mengukur air panas

Untuk segelas kopi bintang harapan asli buatan sini

Ataupun kopi kulawi, 

Sebelum bercengkrama dengan matahari yang seolah tepat diatas kepala

Palu Sebagai Roll model Rekonsiliasi Korban 64-65

Saya atas nama GP Anshor Sulteng, meminta maaf kepada para korban pelanggaran HAM 1965/1966″

Di Atrium Palu Grand Mall, suara itu dengan tegas dan seolah tak terlihat sedikitpun ragu dikeluarkan oleh Adha Nadjamuddin pimpinan GP Ansor Sulteng.

Adha pun melanjutkan “jika di masa lalu, GP Anshor telah melakukan hal-hal di luar batas kemanusiaan kepada mereka. Jujur, saya terinspirasi dengan Bung Cudi yang sebelumnya telah berani meminta maaf kepada korban, atas nama Pemerintah Kota Palu,” 

Pernyataan tersebut sontak disambut dengan ratusan tepuk tangan mayoritas anak muda yang memadati Atrium pusat perbelanjaan terbesar di kota Palu itu, Sabtu sore (23/09/2017)

Namun, Adha tetap menandaskan, permintaan maaf yang dilakukan bukan berarti GP Anshor meminta maaf terhadap PKI. Sebab bagi GP Anshor sendiri, tidak ada tempat bagi komunisme di Indonesia.

“Permintaan maaf ini adalah upaya rekonsiliasi yang dibangun oleh GP Anshor Sulteng dengan para korban, sebagai sesama umat muslim dan atas nama kemanusiaan. Andaikata, orang-orang tua kita ini menuntut kerugian menjadi korban selama puluhan tahun, bagaimana Negara akan membayarnya?,” jelasnya.

Sekalipun Jelang 30 September 2017 kemarin, ada yang mensinyalir TNI bermain politik. Dimana Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengintruksikan jajaran TNI baik AD, AL, dan AU wajib menonton film G30S/PKI, yang menyebabkan situasi politik nasional memanas. 

Situasi tersebut, tampak cukup berpengaruh juga pada situasi Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Hampir saja upaya rekonsiliasi korban 1965 sampai tahun 1966, dengan pihak terkait yang sudah dirintis sejak tahun 2012 oleh Solidaritas Korban Pelanggaran HAM (SKP-HAM), hampir saja keluar dari rel yang telah diharapkan.

Sekjen SKP-HAM Sulawesi Tengah Nurlaela Lamasitudju mengungkapkan, hampir saja rekonsiliasi korban 1965/1966 di Kota Palu yang sudah dibangun sejak 2012 tidak berlangsung mulus. Hampir saja dihadapkan dengan persoalan sama, yaitu pertentangan dengan pihak yang tidak setuju dengan rekonsiliasi ini.

“Kita bersyukur hampir saja terjadi kendala. Padahal sudah tertata dengan bagus, ada napak tilas, bedah buku, dan seminar soal korban 1965/1966 saat itu,“ ungkap Nurlaela setelah kegiatan Kado Cinta Untuk Palu itu sukses di gelar.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilman Farid, saat menghadiri pembukaan Featival Palu Nomoni yang dirangkai dengan Pekan Budaya Indonesia itu, sangat mengapresiasi kegiatan rekonsiliasi tersebut.

“Kegiatan yang dilakukan SKP-HAM dan komunitas-Komunitas pemuda Palu, bisa menjadi Roll Model kota-kota lain di Indonesia, untuk merekonsiliasi Korban pelanggaran HAM 1964-1965” ujar Farid saat ditemui dibtengah-tengah riuhnya perayaan PBI dan Palu Nomoni.

Nurlaela menuturkan, rekonsialisi korban 1965/1966 ini, sebenarnya sudah menjadi gagasan SKP-HAM sejak tahun 2012. Rekonsiliasi itu ditandai dengan permintaan maaf Wali Kota Palu Rusdi Mastura, kepada korban pelanggaran HAM 1965/1966 di Kota Palu.

“Secara langsung permintaan maaf saat itu disampaikan walikota. Karena saat itu Pak Cudi (Rusdi Mastura) mengaku ikut menjadi bagian dari pihak yang menangkapi mereka yang dituduh terlibat PKI,“ tutur Ela.

Mungkin masih banyak yang menyimpan ingatan saat Rusdi Mastura pernah memprakarsai dialog terbuka, bertemakan “Stop Pelanggran HAM” di Taman GOR Palu, 24 Maret 2012, lalu. Saat pelaksanaan dialog tersebut, ia masih menjabat sebagai Wali Kota Palu dalam priode 2010-2015. Yang sebelumnya Rusdi Mastura juga sudah memimpin satu periode.

Di depan para Tapol korban pelanggaran HAM 1965-1966, Rusdi menyampaikan maaf kepada masyarakat Kota Palu Sulawesi Tengah yang menjadi korban pembersihan Partai Komunis Indonesia. “Saya minta maaf atas nama Pemerintah Kota Palu kepada seluruh korban peristiwa 1965-1966 di Kota Palu dan di Sulawesi Tengah,” kata Rusdi

Permintaan maaf tersebut masih tersimpan dalam file video Dokumentasi SKP-HAM Sulawesi Tengah.

“Setidaknya kita berterimakasih kepada Pak Walikota saat itu. Sudah memberi jalan kepada kita yang terbaik,“ ujar Ela.

Ela juga menjelaskan, setelah permintaan maaf itu, terbitlah Peraturan Wali Kota (Perwali) Kota Palu nomor 25 tahun 2013 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM). Salah satu poin isi Perwali, mengupayakan pemenuhan hak-hak korban, lewat pendekatan pemberdayaan masyarakat.

“Para korban pelanggaran HAM 1965/1966 di Kota Palu yang masih berada di bawah garis kemiskinan, diprioritaskan untuk menerima program pemberdayaan dari pemerintah. Seperti Program Keluarga Harapan (PKH), beasiswa bagi siswa/mahasiswa kurang mampu, bantuan bedah rumah, dan program-program pemberdayaan lainnya,“  jelasnya

Selain SKP-HAM dan Komunutas Hitoria Sulteng, pelaksana juga diikuti sejumlah komunitas anak muda di Kota Palu, yang mengindikasikan ketabuan yang seolah belenggu selama ini dirasakan terkait peristiwa 1965/1966, terasa sudah mulai terurai.

Sebagai besar anak muda yang memiliki kepedulian pada kemanusiaan tentu sangat merasakan seolah ada bayangan gelap tentang peristiwa 1965-1966 yang dikenal dengan G30S/PKI. Ternyata tidak demikian, sehingga harus mengubah mindset tentang G30S, supaya tidak mengkambing hitamkan salah satu pihak. karena tidak majunya dalam konteks segala lini bangsa ini, dipengaruhi warisan dendam yang terus berlangsung. Semisal soal pendidikan yang banyak masalah. Politik selalu ribut, ekonomi masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ini karena masih menahan rasa dendam.

Rekonsiliasi bukan hanya menggelar bedah buku. SKP-HAM Sulawesi Tengah juga menggelar napak tilas dengan mendatangi tempat-tempat yang dulu pernah diceritakan tempat kerja paksa korban 1965/1966. Selain itu mereka juga menemui para korban yang menyebar di Kota Palu dan sekitarnya.

“Ini yang akan menjadi dokumen kita. Masing-masing perserta siapa yang berbakat menulis juga diminta untuk menulisnya, dan ada tawaran dari Sketses asal bandung, Agah Nugraha, untuk membuat novel grafis,“ tambah Ela.

Menanggapi permintaan maaf yang dilakukan GP Anshor salah seorang cucu korban 1965/1966 Madi mengatakan, jika kakek dan neneknya pernah berbuat salah atau berselisih paham dengan GP Anshor, dirinya sudah minta maaf pada saat digelar bedah buku.

“Saya terinspirasi dengan permintaan maaf bung Cudi, kepada para korban. Saya sendiri sebagai cucu korban, meminta maaf jika di masa lalu, kakek dan nenek saya pernah berbuat salah atau berselisih paham dengan GP Anshor. Tidak ada keinginan dari kami untuk membangkitkan kembali PKI di negeri ini,” ujarnya.

Adapun suara dari salah satu korban pelanggaran HAM 1965/1966 di Kota Palu, Asman Yodjodolo, korban pelanggaran HAM 1965/1966 di Palu, bahwa dirinya tidak menuntut apa-apa. “Kami juga tidak dendam pada siapapun, termasuk kepada pemerintah. Kami hanya ingin, peristiwa yang menimpa kami, tidak lagi dialami oleh generasi mendatang,” ujarnya.

Koordinator Komunitas Historia Sulteng (KHST), Moh Herianto menyambut baik kegiatan rekonsiliasi ini. Ia mengatakan, hakikat kegiatan ini sebenarnya adalah mengangkat warisan sejarah kemanusiaan. Sejarah tersebut mencatat warisan cinta bukan kebencian.

“Dan hal itu yang harus kita pahami bersama. Ke depan pula Kota Palu semoga saja menjadi rujukan kota-kota lain bahakan Negara untuk menggelar acara rekonsiliasi,” tandas Anto.

Seperti kita ketahui, di era Orde Baru (Orba), tiap tanggal 30 September, stasiun televisi nasional TVRI selalu menayangkan film Pengkhianatan G30S/PKI. Saat kali pertama rilis pada 1984, film ini bahkan wajib ditonton oleh para siswa SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas) di seluruh Indonesia.

Namun pemutaran film tersebut lalu terhenti. Sejak Soeharto lengser sebagai Presiden RI ketika reformasi pada 1998. Berhentinya tayangan film garapan Arifin C Noer itu, atas desakan sebagian masyarakat dan pihak TNI AU. Mereka memandang film tersebut tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya. Setidaknya, ada beberapa adegan di film itu yang berlawanan dengan fakta sejarah.

Dalam hal rekonsiliasi, Kota Palu sangat berani dan telah berada beberapa langkah didepan kota-kota lain di Indonesia, sehigga sangat layak Kegiatan yang dilakukan SKP-HAM dan Komunitas anak muda Palu menjadi Roll Model Kota-kota lain di Indonesia.

Secoretsajak, “poboya”

Di timur Palu
Dari Gumuk serupa gunung, bising tromol sudah mulai berkurang
Tapi di gumuk yang benar-benar gunung, lubang di lereng-lerengnya semakin lebar

Dari tengah kota yang kata orang bermatahari sepuluh

Masih tampak  hijau puncaknya, tapi esok tak ada yang bisa memastikan untuk tidak seperti freeport

Secoretsajak,”terawang”

Kursi kayu kilap pernis

Bola-bola lampu di bawah langit malam pekat 

Bulan tanpa enggan menjatuhkan pendarnya

Awan tipis berbisik pada bintang yang malu-malu menatapmu yang membayang disana

Pintu merah menatap sinis

Pagar dinding berdiam diri, dan tak mau mengomentari apa yang di pajangkan pada pranata hari

Diluar sana, di bawah sana

Jalan nampak kelelahan oleh lalu-lalang

Persinpangan memisahkan angan pada rindu

Sementara diatas sini

Diloteng yang di penuhi mimpi yang telah menepi

Lantai berderit ditempa langkahmu

Sudut ruangan menyepi dengan hening yang mencekam

Tiang-tiang penyangga tertegun menatap pada ketidakberdayaan denting pada tingkah waktu 

Kaki-kaki tanpa kesah

Lalu-lalang tak mengguris jejak.

Pohon di samping tembok menjulang

Tas coklat

Syal dan gawai

Adalah yang sebati melucuti segala yang nampak dan segala yang akan tertapak