Perempun adalah segala cerita

matahari masih terik di langit sigi

Pukul 1:40, minggu siang

Di perkebunan kelapa

Segala yang nampak adalah pohon kelapa, daunnya melambai

Terhampar cukup luas, bahkan sangat luas.

Di kejauhan, nampak sebuah bangunan yang sebagian besar dindingnya tebuat dari pelepah kelapa.

Rasanya dari pohon di sekitaran

Dari dekat

Terlihat

Ke-enam tiangnga dari kayu gelondongan sebesar betis orang dewasa

Atapnya dari daun sagu yang dijahit,

banyak orang menyebutnya atap rumbia

Bangunan serupa rumah dengan satu penghuni

Seorang nenek

Aku melihatnya

Mataku berhasil menangkap

Ia keluar, berjalan dengan tangan

Kedua Kaki diseret

Ia merangkak

Dua windu sudah, kedua kakinya nenek tak lagi bisa untuk melangkah

Semampai rambut panjangnya tak lagi sewarna

Matanya menyimpan setumpuk masa lalu

Diantaranya, tersimpan sakramen pagi, sore, malam yang dilaluinya bersama suaminya

Yang kini, masih ia sebut namanya dalam doa kala malam semakin menua

tak beda dengan usiannya

Suaminya

Suaminya

20 tahun yang lalu, suaminya menutup mata. Tertutup selamanya

Nenek rabiah

76 sudah menggenapi hidup, menatap dunia. Dan selama itu pula nenek itu dipanggil dengan nama Rabiah

Rabiah tangguh

Rabiah tangguh

Dengan langkah tangannya

Seorang diri, ia

Mengumpulkan batang lidi, menjadi sapu lidi

untuk di jualnya

Saban hari

Rabiah kesana kemari

Di antara pohon kelapa menghampar

Yang bukan miliknnya

Tanah dibawah gubuknya juga bukan miliknya

Tak dimilikinya lagi sejengkal tanah

Namun Nenek Rabiah tak resah

ia tabah.

Nenek rabiah

Seorang diri

Di usia senja

Advertisements

Kala

Tentang rindu dan pertemuan haru

Tentang wajahmu dan resam yang termangu

Juga tentang sabtu yang terasa begitu jauh dengan minggu

Menunggu

Sepertihalnya pertautan yang tersulam

Menempati baris yang hanya sebatas pernah

Pada manuscript yang menarasikan cerita yang dibangun dengan alur zigzag

Yang terbilang susah ditebak

Kadang dimulai dengan akhir cerita

Kadang juga tiba-tiba muncul sosok yang tidak bisa disangkakan

Dan terkadang sudah sampai di tengah cerita, kembali lagi di awal, dan sebaliknya serta sukar di tebak seluk-beluknya

Narasi yang terkesan semrawut

Seperti narasi rindu yang tidak pernah rapi di laman hari

Yang bisa dijadikan patokan merindu adalah saat sepi, hujan, malam, dan menjelang lazuardi. Juga saat senja kala.

Pekan

Aku membayangkan

setiap akhir pekan

adalah saat dimana rindu jadi pekan yang akhir

Di samping muara, di bibir teluk.

Masjid terapung

Meski tak benar-benar mengapung

Aku membubarkan renungan

Lalu kau termangu

Itu artinya, adalah kata lain dari, aku tak perlu bersusah payah membayangkan gambar wajah sendumu.

Karena, di saat hari mulai Menua seperti itu, bola mataku sudah ada gambar wajahmu yang sementara senyum-senyum agak tertahan dan agak menunduk sedikit.

Dan tercium olehku juga bau harum lembut parfum tubuhmu

Dan itu artinya

Oh nampaknya tak perlu aku jelaskan

Taste, not feel

“Kita jangan ikut arus” tutur lelaki paruh baya bermata nyaris sipit itu

Setiap kata yang meluncur darinya, lebih berwarna sindiran yang membangkitkan semangat ‘merenungi’ gelegat diri muda ini

“Yang terpenting itu ‘taste’, bukan feel” pituturnya lagi

Dan aku mulai merenung

Namamu Kini

Langkahmu kini tak dilihat

Ucapmu kini tak didengar

Rengkuh tanganmu kita tak dirasa

Kucuran peluhmu bukan untuk tepuk tangan, tapi itu hanya kau peruntukan pada senyum-senyum para pengguris masa setelahmu

Darah yang kau curahkan tak kau ingini jadi pengakuan, tapi kau hendaki jadi jalan untuk tuan dan puan pelukis zaman setelahmu

Air mata yang kau jatuhkan tak kau harapkan jadi sanjungan, tapi kau hendaki menumbuhkan benih-benih perdamaian

Hari ini, ada catatan kosong yang seharusnya terisi perihal jasamu

Hari ini, namamu hanya jadi pelengkap pada dinding folklor yang hanya tinggal untuk di dongengkan, dan akan tanggal dari pemaknaan

Hari ini, namamu hanya jadi romantisme berbagai kepentingan yang semakin terpaut dengan kesejahteraan kaum pinggiran

Hari ini namamu hanya dijadikan pelengkap sakramen hiburan hingar-bingar peradapan

Hari ini, namamu hanya di kenal sebagai penanda tugu perempatan, nama jalan, taman pusat keramaian, dap pelengkap batu nisan

Dan hari ini, jasa-jasamu disimpan di gedung musium provinsi, yang tak tentu mendapat kunjungan tiap bulan

Tapi kau tak pernah menyesalkan semua itu

Kau mengajarkan hidup, untuk menghidupkan

Kau mengajarkan hidup adalah perjuangan tanpa terbilang

Kau mengajarkan setitik arti hidup

Di jagat kefanaan ini, kau telah menanam tiang pancang yang abadi tinimbang batu cadas dan tembok beton rumahan

Kau talah menjadi desir setiap helaan napas penghuni rumah kemerdekaan

Dan kau akan tetap menjadi penghuni sejarah, yang digurris dari tinta putih yang paling lekat pada perkamen zaman

Dan kau tetap setia jadi mandau pada pohon rindang bangsa kita yang mulai lucu-lucunya bermain wayang

Semoga kau mendapat salam dari setiap jiwa yang remang pada setiap keluhuranmu

Oh pahlawan

Oh INA

Gelarmu seperti singkatan penamaan negeri ini, dan rasanya itu hanya aku dapati di kota lembah ini.

Dalam hari yang bertingkah sebagaimana mestinya, kau menapaki jalan lengang, jalan sesak- hingga jalan itu lengang kembali

Kadang kau menjejakkan langkah di keramaian Impres, kadang juga di keriuhan masomba.

Kadang juga, melintasi halaman pertokoan, ruko dan gedung perkantoran untuk sekadan menjajakan yang bisa kau bawa

Tubuhmu selalu berpeluh, peluh yang pasti selalu dikibaskan mahkluk dengan tudung rapi dan wangi bunga kuburan, dan disapu dengan  selembar putih dari rintihan belantara.
Kau menjajakan pisang-pisang kecil bersama segurih kacang

Kadang kau juga membawa bejana yang berisi ikan yang kau sebut Bau.

Kau berjuang menutup telinga dari gelak tawa nasib yang memekakkan

Masih saja kau menopang segala yang kau jajakan, untuk menantang hari dan menyumpal mulut nasib yang katamu seperti ember pecah.

Kau masih berkutat dengan golak perasaan yang belum juga di mengerti waktu.

Oh ina, 

Semoga matahari bersedia selalu menjadi sahabatmu.

Sebelum mungkin

Harapan kerontang

Lunglai dan tergerai

Bersimpuh pada nyalak kesukaran

Bermimpi meski harus dipaksakan

Menukik segala kesah

Meski sekejap

Semusim lalu

Dengan tatapan memerahmu

Kau menyentuh hal yang paling mungkin

Dengan segala keriuhan angan

Dan deru ketidakpastian

Aku menjadi seonggok yang bertumpu pada ketabuan

Wajahmu melambai

Matamu berbisik

Rautmu menarik

Pada hampar palung ilusi

Dalam buai semu, aku menoreh ingin

Memandang lekat, dekat

Wajahmu.

Patri

Aku tak lihai menggerai kata-kata pada apa yang membelit bilik hari-hari kita.

Soal bising bisikan gelegat ambisi

Tak lain

Adalah angin yang kian terbahak mengucilkan aku yang semakin pura-pura tak bisa membedakan cita, dan cinta

Aku semakin menepi

Sedang kau, mematri lirik-lirik lirih

Dalam siul.

Dan kini, hal yang paling menenangkan nun sejuk, adalah jikalau senyummu tak berkelindan di awang anganku.

Hanyalah kau menggerai resah, tanpa rasa bersalah.

Namun sungguh

Seruang itu, belum tersimpai wajah.

Hanya. Sekadar samar resammu.

Dan entah sanggup terpatri rindu

Sabanamu

Tak ada rindang pada seluas sabanamu

Hingga angin berdesis pun segan

Menekuri jejak-jejak kelam itu

Menyesatkan pada hampar belantara tanpa geriakmu

Gunung kau buat menanti

Sewindu dalam sabanamu

Tanpa bekal kata, tanpa penunjuk waktu

Tak ada

Pagi yang masam

Belantara yang membuat kita menukik resah

Adakah perburuan yang kekal?

Adakah senja yang tak berujung?

Adakah dercak kagum yang tak berpangkal?

Adakah kota tak memiliki utara?
Tak ada sendu yang karenanya menunggu

Tak ada hembus yang karena angin lalu

Tak ada aku  menunggu selain senyummu