Secoretsajak “retas”

Lagi dan lagi, menerka alur harapmu

Tapi pagi tak mau merahnya memudar begitu saja, tanpa sajak yang menukik memecah kehenihan subuh yang pasti sudah sangat jauh ditinggalkan terbit yang terik. Dan di sana kulihat kau belum juga bangun, kau masih menyambung mimpi yang sempat terputus karena tanpa sengaja suaraku agak keras membaca sajakmu yang dulu. Maafkan aku

Aku tak tahu, sajakmu yang dulu ternyata sudah begitu usang, hingga kau mengguris sajak baru yang belum aku tahu, karena kau belum memberitahuku. Mungkin juga kau tak ingin menunjukkan kepadaku. Atau juga kau ingin menyimpannya sendiri, dan tak rela jika aku mengejanya karena kau sudah terlalu takut itu akan mebuat barisan kesia-siaan karena tak mampu mengubah hidup seseorang yang dibangun dari daasar-dasar harapan.

Di harapan itu, nampak seperti garis yang menyirat serupa motif retak pada benda yang tak pernah ingin kau sebutkan, garis itu menyimpai batas keluhmu. Sementara yang ku urai itu, hanya sebatas meretas kemungkinan-kemungkinan yang kau pajang pada dinding mimpimu, dan telah direngkuh kabut di balik selubung anganmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s