Secoretsajak, “sedari”

Sedari melewati yang telah terlewati

Sedari meratap kesunyian-kesunyian yang paling sunyi

Kau ingin melewati sunyi sedari nanti yang tak pernah sedia kau nanti

Matamu tak nampak kerlingnya, karena terselimut kabut mimpi yang menyembul dari kenangan yang menguap, sedari rindu gagal menemukan jalan pulangnya

Dan rindu itu termenung, kau menginginkan pagi melepaskan alun musiknya, sedari hari perlahan menarik teriknya.

Sedari itu, kau tak kuasa meredam kisah yang menabur jelaganya di paruh waktu

sejak itu, kau menarik ingin, dan hanya tinggal letupan-letupan yang ditinggalkan dentum

Harapanmu yang sedari telah lalu, hanya kau tempel pada dinding folklor pertautan yang semakin terpaut

Perlahan kau tergeriap, sedari mendekap keinginan pada seruang vakum yang masih saja mencecap

Dan seketika, hanya memandang harapan yang paling terpencil, itu adalah sedari keluh dan binar selaras bersahutan pada sederhananya harapan

Ya, Yang nampak pada pelupuk inginmu, hanya sederhananya harapan, hingga sedari nanti akan tetap jadi harapan 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s