Secoretsajak, “kita, secangkir kopi”

Aku ingin

Kita seperti secangkir kopi 

Sebentuk semesta_ perpaduan perbedaan yang tak kenal wasyangka

Kamu gula, Aku serbuk kopi

Kamu manis, aku pahit

Kamu legit, aku pekat

Kamu putih, aku hitam

Dan air, adalah rasa kita yang tak mengenal perbedaan

Yang melarutkan kita, pada rasa kita yang menyatu 

Menjadi sebentuk simphony,

 bersahut elegi harmoni perpaduan yang menyesap



Aku ingin

Kita seperti secangkir kopi

Sebentuk pertautan yang saling mengisi

Semesta makna yang saling melengkapi

Meski, kita diperhadapkan pada seharmal selera

Kita tak akan enggan menyapa

Kita tak akan sukar berpadu dengan seputih susu

Atau segurih krimer

Kapucino atau yang lainnya



Aku ingin

Kita seperti secangkir kopi

Yang tak pernah memaksakan rasa

Sekalipun sepenuhnya punya rasa

Yang bisa memberi rasa pada semesta

Yang bisa menyesap rasa pada segala

Kita adalah secangkir kopi, seduhan pahit dan manis menjadi rasa yang punya jiwa

Pahit dan manis menjadi rasa yang bernyawa

Kita adalah secangkir kopi yang memberi nafas kiberdamai dan cerita lain, dari kita

Kita adalah secangkir kopi yang menjadi teman cerita berjuta pasang mata

Kita adalah secangkir kopi yang tak pernah tandas dari kata

Kita adalah secangkir kopi, yang telah berdamai dengan masa lalu 

dari kita

Begitulah kita, yang

Aku ingin 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s