Secoretsajak, “kita, secangkir kopi”

Aku ingin

Kita seperti secangkir kopi 

Sebentuk semesta_ perpaduan perbedaan yang tak kenal wasyangka

Kamu gula, Aku serbuk kopi

Kamu manis, aku pahit

Kamu legit, aku pekat

Kamu putih, aku hitam

Dan air, adalah rasa kita yang tak mengenal perbedaan

Yang melarutkan kita, pada rasa kita yang menyatu 

Menjadi sebentuk simphony,

 bersahut elegi harmoni perpaduan yang menyesap



Aku ingin

Kita seperti secangkir kopi

Sebentuk pertautan yang saling mengisi

Semesta makna yang saling melengkapi

Meski, kita diperhadapkan pada seharmal selera

Kita tak akan enggan menyapa

Kita tak akan sukar berpadu dengan seputih susu

Atau segurih krimer

Kapucino atau yang lainnya



Aku ingin

Kita seperti secangkir kopi

Yang tak pernah memaksakan rasa

Sekalipun sepenuhnya punya rasa

Yang bisa memberi rasa pada semesta

Yang bisa menyesap rasa pada segala

Kita adalah secangkir kopi, seduhan pahit dan manis menjadi rasa yang punya jiwa

Pahit dan manis menjadi rasa yang bernyawa

Kita adalah secangkir kopi yang memberi nafas kiberdamai dan cerita lain, dari kita

Kita adalah secangkir kopi yang menjadi teman cerita berjuta pasang mata

Kita adalah secangkir kopi yang tak pernah tandas dari kata

Kita adalah secangkir kopi, yang telah berdamai dengan masa lalu 

dari kita

Begitulah kita, yang

Aku ingin 

Secoretsajak, “cemas yang sangsi”

Pernah aku begitu khawatir dengan apa yang tak bisa diterka, tak aku mengerti. 

Bahwa aku tahu, itu semestinya tak harus di khawatirkan

Tapi aku tak tahu, tentang mengapa bisa aku mengkhawatirkan itu
Pernah juga sesekali aku takut. Tapi aku tak tahu, pada apa aku takut dan mengapa aku takut

Bahwa aku sadar, tak pernah terbesit untuk jadi penakut seperti ini.
Pernah juga aku cemas, pada apa yang tak aku tahu pasti, tentang apa yang harus di camaskan

Bahwa aku tak pernah mengerti dengan yang berkelit di sela tabir yang masih nanti.

Secoretsajak “Tetes”

Tetes meresap padang pelupuk matamu

mata di sudut membidik gerak-gerik  kita

Dan matamu liar menemukan sasar yang tak juga kau temui

Masih saja menghindar saat kita bertukar pandang

Seolah tak ingin ada kerling  yang menyapa di pelupuk kita

Ada telinga yang tak mau bertemu suara, ia hanya mampu menyapa keluhmu.

Ada sebentuk yang direngkuh rindu, ia tak mau melepasnya, begitu rekat dan semakin erat. 

Meraung pada persinggahan yang tak mengenal tenang

Secoretsajak, “baring”

Aku bisa saja menapak tanpa kamu

Dan itu tak lain seperti kebun tanpa hijau-hijaunya tanaman

 hanya, dahan-dahan kering 

Berserakan

Aku tak tahu

Apa ini tulus?

Entahlah

Aku hanya ingin jadi malammu

Pekat dan legam yang menyekat sesap

Tapi gelap telah meninggalkan jarak malam ini

 hingga rentang telah nampak diantara jangka kita

Tanpa mau bersahut semilir angin malam

Mata kita melerai dalam pejam 

bertukar tatap

Merdu dalam baring yang lelap

Sendu tanpa deru tanpa geriap

Menyulut rindu yang menelungkup 
Tapi tatapku kian sayu

Memeluk keindahanmu yang rebah

Sayang yang kasih terpermanai

Aku mulai meragukan hening malam yang berjanji akan membawakan perpaduan

Tapi tetap

Kau adalah apapun, dan kapanpun 

Bagiku

Secoretsajak, “rengkuh yang lepas”

Mungkin

Harus aku rebahkan segala yang telah aku sulam sebentuk angan

Tanpa harus merengkuh langkah

Tapi sungguh aku kalut pada raga yang tak kau ingini rebah di hadapan waktu dan hembus yang tak kunjung menemukan tepi

Dan hal-hal yang sangat kau ingini kau ingin tuk selalu kembali, telah menjadi aforisme yang bertingkat-tingkat

Sedangkan jarum jam di denganmu, dentingnya tak terdengar dariku. Dan begitu juga degupmu

Kau telah menepi diantara sisi yang luput dari firasatku

¬†Secoretsajak, “aku ingin pergi”

Karenamu, aku ingin pergi : meninggalkan setiap goresan langkah pada pematang-pematang yang dikerumuni rumput yang tak pernah sendiri.

Jika semestaku dijatuhi segala hal yang tak sanggup aku percakapkan denganmu, aku akan membasuh peluh yang membasahi kata-kata yg telah aku persiapkan untuk sebuah percakapan kita.

Karenamu, aku ingin pergi, untuk segala hal yang jauh, Dan kau yang entah hendak menjauh. Semakin meninggalkan jangkau bersama angin yang mengarah ke padang belantara dan gunung-gunung membumbung

Dan kau bebas, mengurai butir-butir sunyi, dan menaburnya pada seruang yang penuh dengan ketiadaan

Karenamu, aku ingin pergi, meninggalkan segala yang masih mungkin, dan kau harus tersenyum, tersenyum karena itu tidaklah mungkin

Secoretsajak, “pagi”

Pagi

 dan segala yang baru tumbuh

      manggamit harapan

Pagi 

Dan yang tersemai dengan hati

Tak kan sendiri
Pagi

Dan makna lain cinta

Kan tersimpai embun diujung daun
Pagi

  dan segunukan bedengan 

      umbai rasa-rasa menyertai
Di nanti

Secoretsajak, “sedari”

Sedari melewati yang telah terlewati

Sedari meratap kesunyian-kesunyian yang paling sunyi

Kau ingin melewati sunyi sedari nanti yang tak pernah sedia kau nanti

Matamu tak nampak kerlingnya, karena terselimut kabut mimpi yang menyembul dari kenangan yang menguap, sedari rindu gagal menemukan jalan pulangnya

Dan rindu itu termenung, kau menginginkan pagi melepaskan alun musiknya, sedari hari perlahan menarik teriknya.

Sedari itu, kau tak kuasa meredam kisah yang menabur jelaganya di paruh waktu

sejak itu, kau menarik ingin, dan hanya tinggal letupan-letupan yang ditinggalkan dentum

Harapanmu yang sedari telah lalu, hanya kau tempel pada dinding folklor pertautan yang semakin terpaut

Perlahan kau tergeriap, sedari mendekap keinginan pada seruang vakum yang masih saja mencecap

Dan seketika, hanya memandang harapan yang paling terpencil, itu adalah sedari keluh dan binar selaras bersahutan pada sederhananya harapan

Ya, Yang nampak pada pelupuk inginmu, hanya sederhananya harapan, hingga sedari nanti akan tetap jadi harapan 

Secoretsajak “retas”

Lagi dan lagi, menerka alur harapmu

Tapi pagi tak mau merahnya memudar begitu saja, tanpa sajak yang menukik memecah kehenihan subuh yang pasti sudah sangat jauh ditinggalkan terbit yang terik. Dan di sana kulihat kau belum juga bangun, kau masih menyambung mimpi yang sempat terputus karena tanpa sengaja suaraku agak keras membaca sajakmu yang dulu. Maafkan aku

Aku tak tahu, sajakmu yang dulu ternyata sudah begitu usang, hingga kau mengguris sajak baru yang belum aku tahu, karena kau belum memberitahuku. Mungkin juga kau tak ingin menunjukkan kepadaku. Atau juga kau ingin menyimpannya sendiri, dan tak rela jika aku mengejanya karena kau sudah terlalu takut itu akan mebuat barisan kesia-siaan karena tak mampu mengubah hidup seseorang yang dibangun dari daasar-dasar harapan.

Di harapan itu, nampak seperti garis yang menyirat serupa motif retak pada benda yang tak pernah ingin kau sebutkan, garis itu menyimpai batas keluhmu. Sementara yang ku urai itu, hanya sebatas meretas kemungkinan-kemungkinan yang kau pajang pada dinding mimpimu, dan telah direngkuh kabut di balik selubung anganmu.