Belantara kota

Di samping bangunan 144 kamar menjulang di Moh Hatta yang melar.

Penjaga berseragam dan wangi parfum dari sisa tips pengunjung

Trotoar bak pesinggahan seempuk beludru

Ibu dan anak duduk

Menanti tangan dalam dekil yang nyaman

Nasi kotak adalah yang menghampiri dari penghuni kota

Kota yang mulai nyaman dari rasa acuh

Kota ini, adalah yang sebanarnya belantara

Di belakang Mall Tatura

Masomba

Keriuhan bersahutan

Senyum dan uluran semata untuk laba

Sapa-menyapa tak lain daripada transaksi

Aroma biru sudah akrab dengan orang-orangnya

Ada kesunyian dibalik tawar-menawar barang jualan

Ada kesendirian dalam lalulalang yang memekakkan

Ada ratapan dalam tawa

Kota ini, adalah yang sebegitunya belantara

di Moh Yamin yang lengang

Di hadapan gedung Wali Kota yang garang

Sebuah taman

Hampir banyak tanaman

Ada yang memilih bersendiri

Ada yang berdua dalam obrolan yang diam

Ada juga yang bergerombol dengan berbagai rencana bersama dan gelak tawa yang bersahutan

Yang diam tak ingin di sapa

Yang berbincang enggan menyapa

Meski tak selalu begitu

Kota ini, adalah yang sesungguhnya belantara

Kelok yang berkepanjangan

Jernih telah meninggalkan warna airnya

Tiap hari, tiap saat bahkan, selalu di keruk pasirnya

Penghuninya sewaktu menyapa, menjandi tontonan orang-orang kota yang kekotaan

Alirnya menyapa hingga bibir air teluk yang melambai penghuni kota

Ia membelah hiruk pikuk kota lembah ini

Ia memisahkan kota seperti sepasang kekasih yang menjaga rindu

Menunggu dan menahan dari kata tidak tahu

Kota ini, adalah selayaknya belantara

Patung Kuda bukan penanda ada kebun satwa

Jembatan kuning, taman Gor, taman kota, ruang perbelanjaan dan lain-lainnya yang serupa

Adalah dipaksa menghuni belantara

Belantara kota ini

Advertisements

mengingatmu

Aku mengingatmu sebagai berkas yang gagal sampai ke dasar diriku, mengambang hambar membawa warna muram.

Membawa bias pada yang akan dan yang telah tersimpan pada arah yang selalu suka menepi di pipi petang

Dan redup menjadi sepenuhnya aku, karena hanya kesunyian yang merapung pada tungkai-tungkai langkah

Memunggungi gelap dan hanya sanggup bersimpuh pada ranting malam.

Lalu, Membiarkan hal yang telah luput, lalu-lalang lintasi titian yang aku sulam dari percakapan yang patah

Aku mengingatmu sebagai berkas yang gagal sampai di dasar diriku, mengambang hambar, membawa warna muram

Menjatuhkan sunyi

Dan mengulang kesunyian hingga tak mau tanggal dan tetap tinggal di mata yang sesak dengan kenangan

Dan tatapanmu adalah kehancuran.

mencabik-cabik setiap yang tertulis sebagai harapan, sebelum sempat terungkai oleh langit barat yang tak juga lelah menyenja

Lalu tubuhku terbuka, menunggu pelukan luka

Kesunyian leluasa mencengkram butir-butir waktu, yang sedari awal telah sedia memapah aku untuk sampai di beranda pagi

Kalut mendekap, mengajak aku untuk tak berajak dari gelap

Aku mengingatmu sebagai berkas yang gagal sampai di dasar diriku, mengambang hambar, membawa warna muram

Tapi sebelumnya, aku telah meluncur diantara masa, untuk mengumpulkan percik-percik ingatan tentang setiap hal yang telah lekas dan tuntas diwaktu yang lalu.

O’ letupan yang tak pernah terpikir untuk ku terka dan telah terlupa

O’ detik yang membuat aku sampai di hadapan pagi

Aku merindui bisikan angin pagi

Karena ternyata angin pagi masihlah dingin, namun gigilnya tak mampu membekukan kemelut dalam kepala.

Ia masih merupakan kerumitan yang mengungkung, dan mencemari semua yang tercurah dalam semestaku.

Lalu aku mengingatmu sebagai seberkas yang gagal sampai di dasar diriku, mengambang hambar, membawa warna muram

Namun tak sanggup menghapus yang telah terpatri dalam kenangan. Karena hanya kenangan yang mempu membuat aku berdamai dengan kesunyian, bersendiri memenuhi ruang sendiri

Dan hal yang paling aku syukuri adalah, ketika aku telah bisa menemukan cara terbaik mengingatmu,

Cara yang tak pernah di tuturkan arah

mengingatmu sebagai berkas yang ku selipkan dalam setiap bait-bait do’a,

penuh rasa, dan tanpa warna muram.

Mengulang kesunyian

Di dalam sandiwara
Kita tak benar-benar bersandiwara
Terlihat orang-orang terbangun
Tapi berpura tidur

Lalu kita tak pernah menyudahi
Bersengketa dengan pagi

Di hadapan arah
Yang tak nampak
Kita tak pernah lelah
mengisi lumbung kecemasan

Palu, 18/12/17

Apapun kapanpun

Di pucuk senja kau menunggu, adalah tak lain kau berharap

Di kepingan hari

Kau tanggal dari segala yang membuatmu memilih

Sementara kau berfikir, kau sanggup mengilusi waktu

Yang nyata, kau, tinggal pada semesta, dimana hanya waktu tak dapat terilusi

Di bangkir kenangan

Aku tak yakin kau masih mengenang

Perihal yang aku nukilkan pada dinding yang telah kita bangun

Manuskrip tertulis, kaulah apapun dan kapanpun bagiku

Tapi, ternyata aku tak benar-benar tepat saat itu

Di depan dinding itu

Tertanam pelajaran dan perjalanan

Kita berjalan dengan punggung saling berhadapan

Dan aku terpaksa mengiyakan

Karena aku sepenuhnya paham

Ketika aku memutuskan menanam rindu pada resammu

Itu petanda, aku tetap jenak pada kesukaran paling sukar sekalipun

Dan di saat seperti itu

Aku memikirkan ketiadaan

Tentang kau yang awalnya tiada

Kemudian waktu menyertaimu ada dalam pandangan mataku

Lalu kemudian tiada karena keberlaluan

Namun, kau tetap hidup di kedalaman diriku

kau tinggal disana, selama waktu sendiri tak sanggup menebaknya

Sehingga aku tak dapat menamai rasa

Lalu akupun tak dapat lagi memeluk keyakinan

Apakah rasa tak akan berpisah?

Saat tubuh kita terpisah?

Mestinya tak ada lagi diantara kita yang menunggu sebuah ketukan pada pintu yang mengawali langkah kepergian

Sehingga, kenyataan, dapat kembali pada titik awal yang sebelumnya menjadikannya nyata

Sehingga aku tak lagi memiliki alasan

Menempatkan pada apapun dan kapanpun

Kau, jiwa yang terilusi waktu.

Ritmemu

Pagi kau terperanga
Di peralihan pagi kau terkesima
Siang kau menelisik
Di pergantian siang dan sore, kau dingin
Tepat sebelum senja menggelap, kau sore
Karena kau tak benar-benar menyimpan harapan
Dan di malam, lupa adalah sepenuhnya kau

Perempun adalah segala cerita

matahari masih terik di langit sigi

Pukul 1:40, minggu siang

Di perkebunan kelapa

Segala yang nampak adalah pohon kelapa, daunnya melambai

Terhampar cukup luas, bahkan sangat luas.

Di kejauhan, nampak sebuah bangunan yang sebagian besar dindingnya tebuat dari pelepah kelapa.

Rasanya dari pohon di sekitaran

Dari dekat

Terlihat

Ke-enam tiangnga dari kayu gelondongan sebesar betis orang dewasa

Atapnya dari daun sagu yang dijahit,

banyak orang menyebutnya atap rumbia

Bangunan serupa rumah dengan satu penghuni

Seorang nenek

Aku melihatnya

Mataku berhasil menangkap

Ia keluar, berjalan dengan tangan

Kedua Kaki diseret

Ia merangkak

Dua windu sudah, kedua kakinya nenek tak lagi bisa untuk melangkah

Semampai rambut panjangnya tak lagi sewarna

Matanya menyimpan setumpuk masa lalu

Diantaranya, tersimpan sakramen pagi, sore, malam yang dilaluinya bersama suaminya

Yang kini, masih ia sebut namanya dalam doa kala malam semakin menua

tak beda dengan usiannya

Suaminya

Suaminya

20 tahun yang lalu, suaminya menutup mata. Tertutup selamanya

Nenek rabiah

76 sudah menggenapi hidup, menatap dunia. Dan selama itu pula nenek itu dipanggil dengan nama Rabiah

Rabiah tangguh

Rabiah tangguh

Dengan langkah tangannya

Seorang diri, ia

Mengumpulkan batang lidi, menjadi sapu lidi

untuk di jualnya

Saban hari

Rabiah kesana kemari

Di antara pohon kelapa menghampar

Yang bukan miliknnya

Tanah dibawah gubuknya juga bukan miliknya

Tak dimilikinya lagi sejengkal tanah

Namun Nenek Rabiah tak resah

ia tabah.

Nenek rabiah

Seorang diri

Di usia senja

Kala

Tentang rindu dan pertemuan haru

Tentang wajahmu dan resam yang termangu

Juga tentang sabtu, saat terasa begitu jauh dengan minggu

Menunggu

Sepertihalnya pertautan yang tersulam mengambang

Menempati baris yang hanya sebatas pernah

Pada manuscript yang menarasikan cerita yang dibangun dengan alur zigzag

Yang terbilang susah ditebak

Kadang dimulai dengan akhir cerita

Kadang juga tiba-tiba muncul sosok yang tidak bisa disangkakan

Dan terkadang sudah sampai di tengah cerita, kembali lagi di awal, dan sebaliknya serta sukar di tebak seluk-beluknya

Narasi yang terkesan semrawut

Seperti narasi rindu yang tidak pernah rapi di laman hari

Yang bisa dijadikan patokan merindu adalah saat sepi, hujan, malam, dan menjelang lazuardi. Juga saat senja kala.

Pekan

Aku membayangkan

setiap akhir pekan

adalah saat dimana rindu jadi pekan yang akhir

Di samping muara, di bibir teluk.

Masjid terapung

Meski tak benar-benar mengapung

Aku membubarkan renungan

Lalu kau termangu

Itu artinya, adalah kata lain dari, aku tak perlu bersusah payah membayangkan gambar wajah sendumu.

Karena, di saat hari mulai Menua seperti itu, bola mataku sudah ada gambar wajahmu yang sementara senyum-senyum agak tertahan dan agak menunduk sedikit.

Dan tercium olehku juga bau harum lembut parfum tubuhmu

Dan itu artinya

Oh nampaknya tak perlu aku jelaskan