Cerita pandere, antara hujan dan semangat

Kiranya sudah 2 hari hujan lumayan keras guyur tempat KKN, dalam 6 hari hitungan, sejak senin lalu. Hari pertama sampai hari ke 4 terlihat tanah di Desa Pandere tampak kering bahkan lebih kering dan garing dari ucapa-ucapan selamat yang klise.

( jangan dibaca jika ekspektasimu pada bacaan berat )

Tapi ini bukan soal hujan, sekalipun tak putus hubungan dengan hujan. Ini soal keping-keping haru yang nganga relung para personil Mahasiswa KKN Posko Desa Pandere. Bagaimana tidak, anak-anak Pandere, anak-anak sini, sudah tidak peduli dengan hujan.

Ya, mereka tidak mempedulikan hujan, mereka tetap pergi ke posko untuk belajar mengaji.

Semangat belajar mengaji anak-anak Pandere lebih keras daripada hujan, petir atau guntur sekalipun. Coba bayangkan. Saat hujan sedang lucu-lucunya bercumbu dengan tanah, mereka masih riang, berbekal payung, satu payung tidak kurang dari 4 anak, duyun-berduyun menembus kerasnya hujan, menerjang tanah lembab yang kelawat, hingga jadi nyaris lumpur, menyambangi mahasiswa kkn minta di ajar mengaji. Kayaknya meski hujan badai sekalipun. Meraka tak peduli.

Terharap semangat anak-anak ini tak akan longsor, seperti kekhawatiran tanah longsor gunung di timur Desa kedua ketika memasuki kecamatan Gumbasa ini. Dari palu.

Tapi hikmahnya, kalau hujan tanah bukit di sebelah desa yang tak dilalui air, bisa di tanami warga dengan berbagai tanman palawija. Sepertihalnya mahasiswa KKN menanam peran dan kesan.

Advertisements

SKP-HAM Akan Rayakan Hari Jadi Ke-13 

Solidaritas Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) akan merayakan hari jadi ke 13 dengan tema ” 13 Tahun SKP HAM Merayakan Semangat Juang Penyintas”, Kamis (19/10/2017)

Nurlaela Lamasitudju, Sekjend SKP-HAM Sulteng, menjelaskan konsep yang diangkat dalam acara perayaan tersebut adalah Pertunjukan seni, diskusi kemanusiaan dan bazar sebagai bentuk apresiasi karya para penyintas dampingan SKP-HAM yang mengalami diskriminasi, dan dalam acara tersebut tidak membuka kritik atau saran.

“Harapannya di acara nanti akan ada apresiasi karya para penyintas korban pelanggaran HAM, dan kami tidak akan membuka kritik atau saran, karena mereka sudah sangat luar biasa dari pada kita yang tidak mengalami diskriminasi”  ungkapnya.

Karya dari para penyitas nanti akan di pamerkan dengan tema “Bazar Peduliku”, dan produk-produk kerajinan diantaranya tenun, rajutan dan kerajinan kerajinan lainnya. 

Dalam acara tersebut, juga akan diisi dengan pertunjukan musik dari penyanyi lokal, Sisi Laborahima dan Gio mandike. Sedangkan pembacaan puisi akan dibawakan olrh para pemuda Komunitas Puisi Harmoni (Kopi Harmoni) Kota Palu.

Ela juga menjelaskan bahwa dalam perayaan tersebuat akan ada diskusi kemanusiaan volume 02, dengan pola diskusi lebih luas membahas soal kemanusiaa.

“Kalau diskusi kemanusiaan volume 1 hanya fokus pada korban pelanggaran HAM 65-66, diskusi volume ini akan membahas diskriminasi HAM lebih luas” jelasnya.

Diantara penyintas yang didampingi oleh SKP-HAM yang akan didiskusian adalah ODHA, Difabel, korban KDRT, Trafficking (perdagangan manusia), korban pemerkosaan, eksploitasi seksual, dan lain sebagainya.

Ela juga menjelaskan bahwa para penyintas selain mengalami permasalahan diskriminasi sosial, mereka juga mengalami persoalan ekonomi.

“Permasalahan mereka sangat kompleks, sudah dikucilkan, mengalami keterbatasan fisik, dan masih harus nencari nafkah untuk kebutuhan mereka sendiri dan keluarga mereka, sehingga sudah tidak pantas ketika kita mengkritik mereka” tandasnya.

Sastra 

FAM Sulteng Adakan Sosialisasi Sastra di SMK dan SMA 

Forum Aktif Menulis (FAM) Sulawesi Tengah (Sulteng) melakukan sosialisasi Sastra kepada pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Palu dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Palu.

Ketua FAM Sulteng, Loddy Surentu, mengatakan bahwa Sosialisasi ini bertujuan untuk memperkenalkan sastra dan mencari bakat-bakat terpendam dari para pelajar SMK dan SMK Sulawesi tengah.
“Sosialisasi ini bertujuan untuk memperkenalkan sastra kepada siswa dan menggali bakat-bakat menulis dari para siswa, serta memperkenalkan FAM itu sendiri” tururnya, Kamis (12//10/2017).

Loddy juga menjelaskan bahwa sosialisasi tersebut juga mengajak siswa untuk bergabung di FAM dan untuk belajar menulis sastra dengan dibimbing oleh Sastrawan profesional sulawesi tengah.

“Kalau adik-adik belum bisa nenulis gak apa-apa, nanti akan dibimbing oleh sastrawan hebat suteng, jadi tenang aja” ujar Loddy dihadapan puluhan para siswa dalam sosialisasi tersebut.

Loddi juga menjelaskan bahwa karya tulis yang akan di hasilkan oleh para siswa nantinya akan dibukukan oleh Publising Fam sendiri dan buku tersebut dipastikan akan memilimi ISBN.

Selain untuk memperkenalkan sastra, Sosialisasi tersebut juga diharapkan dapat menumbuhkan jiwa-jiwa sastra anak muda sehingga nantinya dapat lahir banyak sastrawan di Sulteng.

Coretan,, “pitutur leluhur”

Menowo keno kanggo tambah kawruh:

1. Adigang, adigung, adiguna.

— Wong sing ngendelake kekuatane, keluhurane lan kapinterane.

2. Adhang-adhang tetesing embun

— Njagakne barang mung saolehe wae.

3. Aji godhong garing

— Barang kang ora nduwe aji babar pisan.

4. Ana catur mungkur

— Ora gelem ngrungokake rerasan sing ora becik.

5. Ana dhaulate ora ana begjane

— Wis arep nemu kabegjan nanging ora sida

6. Ana gula ana semut

— Panggonan sing ngerejekeni mesti akeh sing nekani.

7. Anak polah bapa kepradah

— Wong tuwa nemu reribed amarga saka polahe anak.

8. Ancik-ancik pucuking eri

— Wong kang tansah sumelang yen keluputan.

9. Anggutuk lor kena kidul

— Ngangkah marang sawijining wong katibak ake marang wong liya.

10. Angon mangsa

— Golek wektu sing prayoga.

11. Angon ulat ngumbar tangan

— Nyawang kahanan arep nglimpe.

12. Arep jamure emoh watange

— Gelem kepenake ora gelem rekasane.

13. Asu arebut balung

— Podo rerebutan barang sing sepele.

14. Asu gede menang kerahe

— Wong sing gedhe pangkate mesti luweh gedhe panguwasane.

15. Asu marani gepuk

— njarak marani bebayan

16. Ati bengkong oleh oncong

— Duwe niyat ala oleh dalan.

17. Baladewa ilang gapite

— Ilang kaluhurane.

18. Banyu pinerang

— Pasulayane sadulur mesti enggal pulihe.

19. Bathang lelaku

— Wong lelungan ngambah panggonan sing mbebayani.

20. Bathok bolu isi madu

— Wong asor nanging sugih kepinteran

Dosen juga turut andil, saat mahasiswa terlambat 

Terlambat masuk ruang kuliah. Itu sudah klise lah rasanya. Sama klisenya dengan matakuliah yang tidak menarik. Namun rasanya juga tak seperti itu. Matakuliah apapun bisa menarik dan disukai mahasiswa, jika yang membawakannya bisa membuat suasan kuliah asyik dan menarik.

“Lantas, apa hubungannya mata kuliah, dengan suasana kelas yang dibangun dosen, dan mahasiswa yang suka terlambat masuk ruang kuliah?”

Sederhana saja. Kalau dosen membawakan matakuliah secara menarik, nyaris pasti, mahasiswa akan termotivasi untuk mengikuti perkuliahan dari lekas, hingga tuntas. Bahkan merasa rugi jika tidak masuk, atau terlambat sekalipun. Dan yang satu hal lagi, mahasiswa dapat menikmati proses perkuliahan, dan perkuliahan tidak hanya sebagai gugur kewajiban transfer ilmu pengetahuan, tapi lebih dimaknai, kuliah sebagai pengalaman.

Tapi, nampaknya, boleh dikata kultur perkuliahan hari ini terdaku terpaksa, bahkan membosankan. Mungkin. Ini mungkin lho ya. Ada baiknya kita melihat kultur belajar di Finlandia. Atau kalau tidak mau terlalu serius, kita bisa nonton film, contoh film yang mungkin bisa menyinggung, seperti “Dead poets society”. Film ini asyik. Sama asyiknya dengan pemeran guru di dalam filim ini, yang bisa membuat suasana kelas menjadi hidup, dan asyik. Para pelajar termotivasi untuk mengembangkan potensinya, tanpa kekangan. 

Atau kalau masih kurang, film ” The Freedom Writter” rasanya juga bagus. Sosok guru yang mampu membuat peserta belajar, menemukan dirinya. Dan menjadi pribadi yang tak biasa. Itu juga di mulai dari seorang guru yang mampu membangun suasana belajar yang asyik. Dan mengasyikkan.

Dan, di kedua film ini, setelah suasana kelas terbangun begitu asyik, tidak ada peserta belajar kemuadian terlambat. Rasanya begitu

Kembali lagi, di soal mahasiswa yang sering terlambat. Rasanya tidak sepenuhnya didaku pada “kebiasaan” yang suka terlambat. Tapi juga perlu dipandang, mengapa kebiasaan itu bisa tetap subur? Mahasiswa sudah klise jika selalu disalahkan. Bagaimana kalau sekarang kita mulai melihat dosen yang mengajar. Tapi tidak bermaksud menyalahkan atau mendiskreditkan dosen lho ya. Hihihi ini semata harapan, agar perkuliahan negara kita semakin baik. Semoga.

Sebentuk coretan

Hari, yang tak akan bisa kembali, hanya bisa berganti. Tapi hari ini, tak akan bisa mengganti hari yang telah terlewati. Untaian yang hanya tinggal desau mengiang-ngiang. Tuntutan yang entah bisa terpenuhi entah hanya tinggal tuntutan saja. Hari-hari ini hanya terlewati tanpa sesuatu yang nampak bisa berarti. Sibuk mencari kambing hitam, dan berkutat menemukan pembenaran. Petuahnya yang nampak membuat girang, tapi tak mampu menyejukkan. Tak tahu. Mungkin relung ini terlalu gelap atau mungkin terlalu kotor untuk setetes pencerahan. Akan kembali tapi masih terlalu sibuk, lebih tepatnya terlalu bimbang untuk pendirian, dan keputusan.

secoretsajak¬†“Jarak, teluk lalong, dan pertautan kita”

Menekur di sudut warung kopi

Menyesapi jarak yang kian merentangi kita

Dan waktu meliuk dengan pelannya

Seolah telah berdamai dengan jarak
Mengapa Angin berdesir dengan tingkah yang tak sama dengan hembusan kemarin sore?

saat masih dapat aku tatapu mata jelitamu
Tak biasanya angin berlaku seperti itu
Atau ini karena teluk lalong, yang masih juga tak sanggup meruntuhkan rindu
Entahlah, nyatanya aku juga tak mampu maknai jarak yang merentangi jangkau kita, juga waktu
Ruang semestaku gamang

Karena kursi disebelahku

Di sudut warung kopi ini

Tak ada kamu