Dosen juga turut andil, saat mahasiswa terlambat 

Terlambat masuk ruang kuliah. Itu sudah klise lah rasanya. Sama klisenya dengan matakuliah yang tidak menarik. Namun rasanya juga tak seperti itu. Matakuliah apapun bisa menarik dan disukai mahasiswa, jika yang membawakannya bisa membuat suasan kuliah asyik dan menarik.

“Lantas, apa hubungannya mata kuliah, dengan suasana kelas yang dibangun dosen, dan mahasiswa yang suka terlambat masuk ruang kuliah?”

Sederhana saja. Kalau dosen membawakan matakuliah secara menarik, nyaris pasti, mahasiswa akan termotivasi untuk mengikuti perkuliahan dari lekas, hingga tuntas. Bahkan merasa rugi jika tidak masuk, atau terlambat sekalipun. Dan yang satu hal lagi, mahasiswa dapat menikmati proses perkuliahan, dan perkuliahan tidak hanya sebagai gugur kewajiban transfer ilmu pengetahuan, tapi lebih dimaknai, kuliah sebagai pengalaman.

Tapi, nampaknya, boleh dikata kultur perkuliahan hari ini terdaku terpaksa, bahkan membosankan. Mungkin. Ini mungkin lho ya. Ada baiknya kita melihat kultur belajar di Finlandia. Atau kalau tidak mau terlalu serius, kita bisa nonton film, contoh film yang mungkin bisa menyinggung, seperti “Dead poets society”. Film ini asyik. Sama asyiknya dengan pemeran guru di dalam filim ini, yang bisa membuat suasana kelas menjadi hidup, dan asyik. Para pelajar termotivasi untuk mengembangkan potensinya, tanpa kekangan. 

Atau kalau masih kurang, film ” The Freedom Writter” rasanya juga bagus. Sosok guru yang mampu membuat peserta belajar, menemukan dirinya. Dan menjadi pribadi yang tak biasa. Itu juga di mulai dari seorang guru yang mampu membangun suasana belajar yang asyik. Dan mengasyikkan.

Dan, di kedua film ini, setelah suasana kelas terbangun begitu asyik, tidak ada peserta belajar kemuadian terlambat. Rasanya begitu

Kembali lagi, di soal mahasiswa yang sering terlambat. Rasanya tidak sepenuhnya didaku pada “kebiasaan” yang suka terlambat. Tapi juga perlu dipandang, mengapa kebiasaan itu bisa tetap subur? Mahasiswa sudah klise jika selalu disalahkan. Bagaimana kalau sekarang kita mulai melihat dosen yang mengajar. Tapi tidak bermaksud menyalahkan atau mendiskreditkan dosen lho ya. Hihihi ini semata harapan, agar perkuliahan negara kita semakin baik. Semoga.

Islam Kontemporer

A.    Pengertian Islam Kontemporer

Kontemporer artinya dari masa atau waktu ke waktu. Sejarah Islam kontemporer yaitu suatu ilmu yang mempelajari kebudayaan Islam pada masa lampau dari waktu ke waktu yang dimulai dari masa Rasulullah. Menurut bahasa (etimologi), Islam kontemporer adalah agama yang diajarkan Nabi Muhammad SAWpada masa lampau dan berkembang hingga sekarang.

Menurut istilah (terminologi), Islam kontemporer adalah untuk mengkaji Islam sebagai nilai altenatif baik dalam perspektif interpretasi, tekstual maupun kajian kontekstual mengenai kemampuan Islam memberikan solusi baru kepada temuan-temuan di semua dimensi kehidupan dari masa lampau hingga sekarang.

Setiap pemeluk agama yang taat memilih sikap menjauhi fanitesme buta dan membangun ketaatannya berdasarkan pengetahuan yang benar terhadap agama-agama yang di peluk. Selain itu, ia pun harus memiliki kesadaran yang utuh akan aspek-aspek universal yang terkandung dalam setiap agama.

Cara untuk mengubah pola pikir yang berorientasi pada kemajuan perkembangan zaman yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam:

1.      Memberikan pandagan dan pengetahuan umat Islam yang memiliki keterkaitan kepada salah satu mazhab untuk kembali pada sumber hukum asli, yakni Al-Qur’an dan Hadis.

2.      Memberikan pandangan dan pengetahuan bahwa ajaran Islam menekan pada keseimbangan antar persoalan duniawi dan ukhrowi.

3.      Memberikan pandangan bahwa untuk memahami prinsip ajaran sosial kemasyarakatan, bukan pada pilihan antara Islam harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman atau perkembangan zaman yang harus menyesuaikan Islam.  Tetapi pilihan yang paling tepat terletak pada suatu keyakinan bahwa Islam tidak meletakkan prinsip ajarannya sesuai dengan semangat perkembangan umat manusia.

4.      Menyesuaikan fiqih Islam terhadap kebutuhan masyarakat.

5.      Memberikan pandangan bahwa fiqih hasil kajian ulama masa lampau, ada yang tidak relevan lagi dengan kehidupan masa kini, atau belum diadakan kajian pada waktu itu.

6.      Memperhatikan dalam bidang pendidikan.

7.      Pendidikan harus mampu berperan aktif menuju ke arah pembinaan SDM.

8.      Umat Islam harus dibekali rasa ukhuwah islamiyah agar tidak saling baku hantam.

B.      Isu-isu Pluralisme

Secara sederhana pluralisme berasal dari kata plural yang bermakna banyak atau lebih dari satu. Dalam kajian fisiologis, pluralisme diberi makna sebagai doktrin, bahwa substansi hakiki itu tidaklah satu, tidak pula dua, melainkan banyak. Istilah pluralisme merupakan salah satu konsep fundamental yang belakangan muncul sejalan dengan berbagai kebutuhan masyarakat modern.

Berbagai bangsa melihat pluralisme sebagai suatu sistem bagi kehidupan manusia yang didasarkan kepada prinsip-prinsip bersama, yang menjalin dihormatinya berbagai realitas yang plural dan diakuinya keragaman orientasi yang dianut warga negara.

Pengertian dari pluralisme agama yang pernah diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah SAW pluralisme agama yang berarti hidup bersosial kemasyarakatan secara baik, rukun dan damai dengan penganut agama lain bukan pluralisme agama dalam arti membenarkan semua agama mampu menghantarkan manusia pada kemuliaan dan keselamatan sejati dan abadi yang merupakan konsekuensi dari pembenaran esensi setiap agama. Dan tentu saja, semua yang dilakukan oleh Rasul SAW tidak akan pernah bertentangan dengan Al-Qur’an dan bahkan menjadi argumen bagi segenap kaum muslim di dunia.

C.    Isu-isu Terorisme

Teror berasal dari bahasa latin,terrere artinya menimbulkan rasa gemetar dan cemas. Terorise berarti menakut-nakuti. Kata ini secara umum digunakan dalam pengertian politik, sebagai suatu serangan terhadap tatanan sipil, semasa Pemerintah Teror Revolusi Perancis akhir abad ke-18. Oleh karena itu, repon publik terhadap kekerasan rasa cemas yang diakibatkan oleh terorisme merupakan bagian dari pengertian tersebut.

Menurut bahasa terorisme adalah melakukan sesuatu yang menyebabkan orang menjadi panik, takut, gelisah, tidak aman dan menimbulkan gangguan dalam bidang kehidupan dan interaksi manusia.

Sedangkan menurut syari’ah terorisme adalah segala sesuatu yang menyebabkan goncangan keamanan, pertumpahan darah, kerusakan harta atau pelampauan batas dengan berbagai bentuknya, dari berbagai catatan sejarah, kejadian yang melanda umat saat ini.

Definisi dan kriteria teroris harus disepakati semua pihak, Marty Nata Legawa direktur Organisasi Internasional Deparemen luar negeri berpendapat, terorisme yang dipahami bersama adalah tindakan untuk mencapai cita-cita politik yang dibungkus dalam kekerasan guna menciptakan teror dan memakan korban rakyat sipil tidak berdosa.

Kusnoto Anggoro dari Center for Strategic and Internastional Studies, terorisme merupakan kegiatan untuk menciptakan kekhawatiran dengan tujuan pokok mengubah kebijakan dengan tindak kekerasan sebagai instrumen di Indonesia, menurut Kusnanto kelompok laskt jihad bukan berarti terorisme. Gerakan komando jihad juga sulit dianggap teroris karena tidak memiliki ideologi dan tujuan yang jelas serta merupakan teror, karena menciptakan kekhawatiran luar biasa.

Dalam kelompok barat paling tidak, ada dua kelompok besar. Pertama adalah merka yang selalu mengait-ngaitkan setiap peristiwa teror dengan agama Islam, penembakan yang baru-baru ini memakan korban belasan siswa sekolah di negara bagian Amerika Serikat. Stigmatisasi semacam itu adalah trauma sejarah yang luas, bagi kelompok ini agamalah penyebab terorisme. Bahkan ada di antara mereka yang pindah agama atau anti agama sama sekali.

Kelompok kedua lebih berpikir jernih dan arif, mereka berpendapat bahwa teror bisa terjadi dimana-mana dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Mereka bahkan mulai tertarik untuk mengetahui apa itu agama. Gejala semaraknya kajian–kajian agama dan peradaban semakin mendapat tempat di kalangan ini. 

Dalam kenyataan sejarah, agama bisa dijadikan alat pembenar terorisme ketika penghayatan agama seseorang atau kelompok tertentu rentan, sementara ada faktor lain politik atau ekonomi yang begitu kuat dansering akumulatif, maka keberagaman pada saat itu terkalahkan oleh faktor-faktor yang lebih kuat sehingga yang muncul kemudian adalah nafsu pemaksaan dan kekerasan.

Meski isu-isu terorisme yang transnasional itu masih terombang-ambing dalam dugaan dan kenyataan usaha sinergisuntuk  mewaspadai dan menghadapi ancaman terorisme sangatlah penting karena dampaknya begitu besar bagi stabilitas nasional.

D.    Isu-isu HAM

Di era globalisasi saat ini, HAM (Hak Asasi Manusia) merupakan suatu isu yang sangat menyedot perhatian dan menjadi agenda  yang paling penting, terutama di dunia ketiga, termasuk dunia Islam. Isu HAM bahkan menjadi faktor pertimbangan kebijakan luar negeri setiap negara. Lebih dariitu, keharusan adanya penghormatan terhadap HAM ini menjadi pra-syarat dalam hubungan Internasional. Suatu negara yang dinilai dan diketahui mengabaikan HAM, dapat dipastikan ia akan menjadi sasaran kritik dan diisolir dari pergaulan antar bangsa. HAM disini dimaksudkan sebagai hak-hak tertent yang melekat secara eksistensial dalam identitas kemanusiaan tanpa melihat kebangsaan, agama, jenis kelamin, status sosial, pekerjaan, kekayaan atau karakteristik etnik, budaya dan perbedaan sosial lainnya.

Secara historis, ide tentang HAM berasal dari gagasan tentang hak-hak alami. Oleh karenanya HAM dianggap sebagai bagian dari hakekat kemanusiaan yang paling fundamental. Di dunia barat ide tentang HAM merupakan hasil perjuangan kelas sosial yang menuntut tegaknya nilai-nilai dasar kebebasan dan kebersamaan.

Perjuangan kelas tersebut secara kronologis tercermin dengan lahirnyaMagna Charta (Piagam Jakarta) pada 15 juni 1215 di Inggris, sebagai bagian pemberontakan para baronInggris terhadap raja Jhon. Disusul dengan Bill of Right pada 1689 yang juga di Inggris berisi penegasan pembatasan kekuasaan raja.

Berbicara tentang HAM di Indonesia tidak terlepas dari pembicaraan tentang sejarah perumusan konstitusi dasar negara RI, UUD 1945. UUD Negara RI sudah lahir sejak bulan Agustus 1945 sedangkan UDHR baru dideklarasikan pada 10 Desember 1948, jadi tiga bulan lebih tua karena negara-negara lain sudah memiliki 30 pasal tentang HAM.

Mengenai dicantumkannya elemen-elemen HAM ke dalam UUD 1945 telah terjadi perdebatan yang alot karena terdapatnya pandangan yang berbeda oleh para pendiri negara.

Prof. Soepomo, menganggap bahwa negara merupakan pengejawantahan dari rakyat Indonesia secara totalitas tubuh manusia yang terdiri dari bagian-bagian yang bersatu dalam satu kesatuan. Persatuan dalam persepsi Soepomo mengacu kepada corak dua negara di masa itu, yaitu Jerman dan Jepang.

Berbeda dengan  pandangan serta sikap Soepomo, Hatta dan Yamin berpandangan bahwa HAM yang berasal dari barat yang terkesan liberal itu tidak perlu dipersoalkan tapi yang harus diwaspadai justru negara.

Sikapnya yang di tahun 1945 menolak HAM  itu, di tahun 1949 dan 1950 berubah menjadi menerima. Perubahan sikap tersebut, menurut Buyung, dipengaruhi oleh pengalamannya dalam memimpin delegasi Indonesia ke beberapa kota di luar negeri, seperti Belanda, London dan Amerika.

Salah satu simbol dari sistem demokrasi dalam sebuah negara ditandai dengan diselenggarakannya pemilihan umum (pemilu) dengan siklus tertentu. Di Indonesia pemilu diselenggarakan sekali dalam lima tahun khususnya sejak era orde baru, sehingga melekatlah istilah “pesta demokrasi” bagi even lima tahunan itu. Adanya sistem pemisahan kekuasaan berdasarkan fungsi-fungsi yang berbeda antara tiga lembaga kekuasaan: eksekutif, legislatif, yudikatif.

Pada akhir dasawarsa delapan puluhan proses gejala demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat mulai terlihat meskipun masih banyak kendala yang dihadapinya. Diantara faktor yang mendorong ialah:

1.      Pertama, terjadinya pergesekan-pergesekan pada elit negara yang berdampak pada munculnya realiansi sebagian faksi-faksinya.

2.      Kedua, terjadinya perubahan pada level global yang menghasilkan maraknya gelombang demokratisasi pada beberapa negara blok timur, yang mendorong lahirnya apa yang disebut dengan civil society (masyarakat madani).

3.      Ketiga, munculnya kesadaran kelompok-kelompok maasyarakat bahwa perubahan itu harus dimulai dari bawah dan dilakukan olehmasyarakat sendiri, bukan oleh negara atau pemerintah semata.

Indonesia sebagai salah satu negara yang bergabung dalam keanggotaan PBB dan telah resmi menjadi anggota Komisi HAM yang berpusat di Jenewa sejak januari 1991, segera menyambut deklarasi Wina tersebut.

Pada tahun 1993, melalui KEPRES RI No.  50/1993, dibentuklah Komnas HAM. Adapun tugas dan fungsi Komnas HAM di Indonesia, sebagaimana yang dijelaskan Baharuddilopa, yaitu:

1.      Menjelaskan kepada mayarakat tentang HAM meliputi hak-hak dan kewajibannya, maka masyarakat tidak mudah lagi diperdaya oleh oknum-oknum pejabat tertentu yang beritikad kurang baik.

2.      Menerima dan menangani pengaduan. Dalam hubungan ini Komnas HAM akan berusaha mencegah pelanggaran HAM melalui petunjuk kepada badan-badan pemerintah.

3.      Menelaah semua Konvensil Internasional mengenai HAM untuk segera diratifikasi secara bertahap.

Terbentuknya Komnas HAM ini telah memberikan secercah harapan bagi perlindungan hak-hak civil dan hak-hak asasi warga negara Indonesia.

Persoalan-persoalan krusial dalam penegakan hukum HAM semakin hari semakin berkembang di negara ini. Seperti fenomenal yang terlihat akhir-akhir ini, terutama pasca tragedi WTC di New York City, peta perpolitikan dunia seakan-akan mengalami perubahan secara drastis, terutama menyangkut isu penegakan HAM.

Amerika yang selama ini sangat getol mengampayekan penegakan HAM dimana-mana, isu tersebut kini seakan-akan tenggelam dengan munculnya isu baru, yakni “perang melawan terorisme”.

Hal ini memang terbukti dengan tindakannya yang biadab meluluh lantahkan negara Afghanistan atas dugaan bahwa disana menyimpan seorang yang diduga sebagai otak peledakan menara WTC yang bernama Usmah bin Laden.

Isu tersebut berhasil meyakinkan bukan saja sekutu-sekutunya seperti Inggris dan Australia tapi juga negara-negara lainnya, termasuk Indonesia.

Suatu hal yang sangat memprihatinkan bahwa dengan adanya isu terorisme tersebut, ini mulai terlihat kecenderungan kembalinya otoriterianisme pemerintah terhadap orang-orang.

Sebentuk coretan

Hari, yang tak akan bisa kembali, hanya bisa berganti. Tapi hari ini, tak akan bisa mengganti hari yang telah terlewati. Untaian yang hanya tinggal desau mengiang-ngiang. Tuntutan yang entah bisa terpenuhi entah hanya tinggal tuntutan saja. Hari-hari ini hanya terlewati tanpa sesuatu yang nampak bisa berarti. Sibuk mencari kambing hitam, dan berkutat menemukan pembenaran. Petuahnya yang nampak membuat girang, tapi tak mampu menyejukkan. Tak tahu. Mungkin relung ini terlalu gelap atau mungkin terlalu kotor untuk setetes pencerahan. Akan kembali tapi masih terlalu sibuk, lebih tepatnya terlalu bimbang untuk pendirian, dan keputusan.

secoretsajak “​Jarak, teluk lalong, dan pertautan kita”

Menekur di sudut warung kopi

Menyesapi jarak yang kian merentangi kita

Dan waktu meliuk dengan pelannya

Seolah telah berdamai dengan jarak 
Mengapa Angin berdesir dengan tingkah yang tak sama dengan hembusan kemarin sore? 

saat masih dapat aku tatap mata jelitamu
Tak biasanya angin berlaku seperti itu
Atau ini karena teluk lalong, yang  masih juga tak sanggup meruntuhkan rindu
 Entahlah, nyatanya aku juga tak mampu maknai jarak yang merentangi jangkau kita, juga waktu
Ruang semestaku gamang

Karena kursi disebelahku

Di sudut warung kopi ini

Tak ada kamu