Imajinasi Ramadhan

            “Jika langit, bumi dan malaikat saja turut berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, serta turut berduka dengan kepergiannya, alangkah malangnya manusia yang tak berbahagia dengan kedatangan bulan suci nun penuh berkah ini, serta tidak berduka dengan kepergiannya”.

           Apabila segala keutamaan bulan ramadhan diperuntukkan kepada manusia, apakah makhluk yang bernama manusia memahaminya, atau minimal sekadar berbahagia dengan kedatangannya? Atau kalut hatinya dan menitikkan air mata saat sang ramadhan berlalu?.
           Memang hal tersebut adalah masih wacana yang masih dipertanyakan pada diri sendiri. Pemaknaan pada bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah serta kebahagiaan, tak sedikit yang memaknai dan melewatinya bersama keluarga tercinta. Saat sahur di bangunkan orang tua, makan sahur dengan masakan ibu, pun buka puasa. Sehingga pemaknaan Ramadhan demikian sederhana bersama keluarga.
           Namun Ramadhan ini, sahur aku tak dibangunkan bapak atau ibu, pun tak sahur atau berbuka masakan buatan ibu, tak bersama mereka di kampung. Memang aku bukan satu-satunya yang mengalami hal seperti ini, dan bukan yang pertama kalinya aku lewati Ramadhan seperti ini. Tapi agaknya aku masih melewatinya dengan suasana kebersamaan, bersama teman pun kawan, juga bersama mereka yang sudah seperti saudara, lebih dari itu kuanggap ‘keluarga’ yang hampir setiap hari aku di tempat mereka. Setidaknya suasana seperti ini sampai aku akan pulang kampung, dan setelah pulang kampung semua seperti semula, dan seperti kebanyakan mereka.
             Berusaha tetap bahagia menyambut ramadhan meski dengan konteks yang berbeda. Pemaknaanku pada Ramadhan akan tetap sebagai Ramadhan, tak kurang tak lebih.
              Berbicara tentang Ramadhan, setiap orang memiliki pandangan yang tentunya memiliki perbedaan. Imajinasi setiap orang akan menyisiri bulan bulan yang suci ini dengan frame yang tentunya berbeda-beda juga. Yang imajinasi itu tak akan sungkan bersinggungan dengan nurani yang menuntun pada pemaknaan terhadap Ramadhan. Saya sepakat, imajinasi adalah anugrah hebat dari Tuhan yang diberikan hanya dan hanya kepada manusia. Imajinasi bersama rasio akan mendorong kehidupan dan kebudayaan manusia berjalan menuju sebuah kemajuan dalam bingkai peradaban. Imajinasi membuka ruang kemungkinan yang paling jauh, jauh dan bahkan mustahil. Sementara rasio akan membangun titian dan jalan agar apa yang di imajinasikan kelak menjadi nyata, pun kenyataan.
              Agaknya Allah SWT juga berfirman dalam bahasa imajinasi, dan saya yakin, Dia maha tahu berbicara dalam bahasa imajinasi adalah mungkin dulakukan hanya kepada makhlukNya yang telah di anugrahi imajinasi.
              Begitu pula Nabi Muhammad Saw yang juga menggunakan bahasa imajinasi dalam menyampaikan pesan ajaran Islam, termasuk dalam menyampaikan dan menggambarkan pesan tentang keutamaan bulan Ramadhan dalam Hadisnya. Misalnya hadis berikut:

              “pada bulan ramadhan, aras dan singgasana Tuhan berteriak, sementara malaikat berkata lirih. ‘beruntunglah umat Muhammad Saw, mereka di anugrahi kemuliaan. Matahari, bulan, bintang, makhluk ber-ruh di muka bumi kecuali setan, berdo’a memohonkan ampun untuk mereka, siang dan malam’.
Lalu Allah berkata kepada malaikat ” persembahkanlah shalat dan tasbihmu di bulan Ramadhan pada umat Muhammad Saw”

             Betapa syahdunya bahasa imajinasi dalam hadis ini, yang menjadikan semakin dalamnya pesan yang terkandung di dalamnya. Namun tak sedikit orang yang terjebak pada kesalahan logika dalam memahami esensi dari bahasa imajinasi dalam hadis, dan mengantarkan meraka pada pertanyaan yang sebenarnya tak memiliki manfaat dan arti, dan memang tak berarti.
             Diantara pertanyaan yang tak berarti  yang tak lain: “apakah benar aras dan singgasana tuhan berteriak?, apakan benar malaikat berkata lirih?. Atau apakah malaikat, langit dan bumi benar-benar berbahagia dengan datangnya Ramadhan?, atau apakah langit, bumi dan malaikat benar-benar menangis dengan kepergian Ramadhan?. Atau bagaimana langit, bumi dan malaikat berbahagia atau mebangis?.
            Adalah tidak penting menjawab pertanyaan yang demikian. Karena maksud dari bahasa imajinasi adalah bukan untuk memberikan jawaban akan pertanyaan yang tak berarti itu. Karena jawaban yang tak dapat di indrai adalah susah bagi mereka untuk mengerti yang tak memahami imajinasi. Dan demikian adalah tak memakai nurani. Dan memang akan di pandang naif bagi orang yang tak mengerti arti imajinasi, karena tidak sedikit orang yang masih berpandang sebelah mata  dengan kata imajinasi, bahkan menganggapnya buruk, yang tanpa disadarinya anggpan buruk itulah imajinasinya terhadap imajinasi
              Memang tak penting apakah bumi, langit dan malaikat benar-benar bahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, tapi lebih kepada apakah bahasa imajinasi yang syahdu itu dapat menggetarkan hati kita. Dan tak penting apakah bumi, langit dan malaikat benar-benar bersedih dengan kepergian Ramadhan, tapi lebih pada apakah fiksi bahasa imajinasi dalam hadis tersebut bermakna dalam nurani kita.
              Seperti halnya bayangan dari Jamal D.Rahman, tentang, “di akhir Ramadhan ini Nabi Muhammad Saw menangis bersama bumi, langit dan malaikat. Juga bersama makhluk bermata jelita di surga. Terangnya. Mudah-mudahan kita berada di tengah-tengah mereka semua dan bersama-sama melinangkan air mata duka. Jika tidak Nabi Muhammad menangis bukan karena kepergian Ramadhan, tetapi menangis karena kita, umatnya tidak menangis”
             Sederhananya, pada sisi tertentu bahasa imajinasi dalam hadis dan firman Allah tentang keutamaan bulan Ramadhan akan bermuara pada tataran pemaknaan, dimana  kita berbahagia dengan kedatangannya, dan berduka dengan kepergiannya. Jika nurani kita tak tersentuh sedikitpun, maka harus membutuhkan memahami tantang makna imajinasi, minimal interpretasinya tentang imajinasi sedikit bergeser, jika tak ingin menjadi manusia yang malang.

Advertisements

secoretsajak “​Jarak, teluk lalong, dan pertautan kita”

Menekur di sudut warung kopi

Menyesapi jarak yang kian merentangi kita

Dan waktu meliuk dengan pelannya

Seolah telah berdamai dengan jarak 
Mengapa Angin berdesir dengan tingkah yang tak sama dengan hembusan kemarin sore? 

saat masih dapat aku tatap mata jelitamu
Tak biasanya angin berlaku seperti itu
Atau ini karena teluk lalong, yang  masih juga tak sanggup meruntuhkan rindu
 Entahlah, nyatanya aku juga tak mampu maknai jarak yang merentangi jangkau kita, juga waktu
Ruang semestaku gamang

Karena kursi disebelahku

Di sudut warung kopi ini

Tak ada kamu