secoretsajak¬†“Jarak, teluk lalong, dan pertautan kita”

Menekur di sudut warung kopi

Menyesapi jarak yang kian merentangi kita

Dan waktu meliuk dengan pelannya

Seolah telah berdamai dengan jarak
Mengapa Angin berdesir dengan tingkah yang tak sama dengan hembusan kemarin sore?

saat masih dapat aku tatapu mata jelitamu
Tak biasanya angin berlaku seperti itu
Atau ini karena teluk lalong, yang masih juga tak sanggup meruntuhkan rindu
Entahlah, nyatanya aku juga tak mampu maknai jarak yang merentangi jangkau kita, juga waktu
Ruang semestaku gamang

Karena kursi disebelahku

Di sudut warung kopi ini

Tak ada kamu

Advertisements