Parpol Masuk Kampus

Keluh rakyat kian redup, senyap, karena punyuaranya kian meninggalkannya. kebijakan penguasa semakin leluasa, karena pengontrolnya, adalah juga kaki tangannya.
 Adalah penghianat paling brengsek, seorang, atau kelompok, yang dengan sadar, mendistorsi prinsip gerakan mahasiswa.
sejarah berulang. atau mungkin memang selalu demikian yang tanpa harus diceritakan berulang-ulang. soal mahasiswa yang mulai latah dengan substansi gerakan, dan soal fungsional,  pun, soal apa yang di perjuangkan. juga soal mahasiswa yang semakin keranjingan merapat dalam barisan parpol. entah mulai galau dalam pergerakan oposisi. sehingga mencari sandaran yang potensial untuk lebih terlihat prestisius. entah juga pragmatis.

bukankah posisi mahasiswa itu penyambung derit rakyat?. derit yang mengaduh oleh ketidak pastian penguasa.  yang artinya, intelektual mahasiswa menjadi asasi gerakan oposisi. apakah sudah bijak jika mahasiswa berposisi sebagai orator parpol? berafiliasi yang sangat mungkin terbentuk sebuah konsensus. atau sudah demikian adanya. menjadi terlihat bak istimewa dengan gaung sama-sama memperjuangkan kepentingan rakyat. 
Ataukah, merapat keparpol adalah yang disebut ideologi mahasiswa modern? independensi gerakan sudah usang? oposisi sudah basi, ketinggalan zaman, juga merugikan, mungkin?

entahlah, toh semua itukan soal persepsi. pun pilihan.
 mahasiswa memang memiliki keistimemawan unik. daya tariknya kian mempesona dengan embel-embel intelektualitas dan kengototannya dalam pergerakan. sehingga,  menjadi lahan basah oleh parpol, juga pihak yang bergelimang kepentingan untuk diboncengi, dalam posisinya menjadi toak yang dikemas sedemikian rupa, dan rasionalitas kelas dewa, untuk membangun sebuah konsensus dengan tujuan yang di genggam tanpa pandang kawan atau lawan.

Soal Omek Intern dan Omek Ekstern

TIDAK perlu ditanya lagi, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa Organisasi Mahasiswa intern senantiasa menjadi ajang perebutan tahta oleh Organisasi Mahasiswa ekstern. organisasi intern menjadi lahan garapan di kancah perpolitikan nun pemilu mahasiswa.
Organisasi Mahasiswa demikian di istilahkan “Omas”. pada ranah intern juga ekstern.
nyaris tak bisa dibedakan antara karakter Omas intern atau Omas ekstern pada pergumulan Pemilu Mahasiswa (Pemiluma). hal itu dapat dilihat dari indikasi sebuah kesamaan corak kepentingan.
Dapat dilihat dari teknik kerja yang ditempuh omas ekstern mahasiswa, dengan melejitkan figur yang “marketable” agar dapat mengais banyak suara pada Pemiluma.
pada tinggkat HMJ, keterlibatan atas pembekalan dari organisasi ekstern, yaitu mahasiswa yang dari organisasi ekstern tertentu bagai diatas angin dan menjelma bak sebagai motivator. sehingga, sebagian besar mendominasi dan membawa pengaruh, baik pelaksanaan program kerja HMJ itu. Alhasil, secara praktis pengaruh organisasi ekstern adalah sebagai motivator, pemberdaya, dan pemberi warna organisasi intern. 
tapi sering terjadi “perang dingin” organisasi intern yang berada di tahta BEM/DEMA. dengan organisasi ekstern, meski sebetulnya itu hanya cerminan manuver politik segelintir organisasi ekstern yang berbeda garis pergerakan.
aktivis yang merangsek naik ke tahta BEM/DEMA, sering dimaknai sebagai manivestasi dari organisasi ekstern tertentu. seolah memiliki wewenang istimewa untuk menampung aspirasi bawah dan terkesan harus ditandingi organisasi ekstern lain. hal ini berdampak pada: pertama, menafikkan peran mahasiswa yang sedianya berada di luar garis lingkaran organisasi ekstern tertentu. dan bahkan hanya dijadikan objek belaka. kedua, kadang menghambat kerja organisasi intern pada perealisasian program kerja, sebab kabut perang dingin yang membuat canggung-sunkan sampai segan personal yang berasal dari organ ekstern yang berbeda, utamanya pada tarik-menarik berbagai kepentingan yang memjangkit. mungkin, akan bijak. atau bahkan sudah keharusan mengakui ini. bahwa kita, belum dewasa ber-“politik”.
ketiga, pandangan skeptis atas kinerja dan pembenaran ide-ide yang dikembangkan dalam lingkaran kemahasiswaan organ ekstern tertentu, menjadi penjelas setiap bahwa organ ekstern memiliki karakteristik dan corak berbeda dengan yang lain. tetapi sikap menerima kebenaran dari organisasi lain jarang dimaknai sebagai obat pereda Is dengki. bahkan anggapan kebenaran harus barasal dari bendera kita.
dalam pada itu, perlu dikembangkan sikap inklusif dan transformatif di antara organisasi kemahasiswaan yang ada. baik intern maupun ekstern. bagaimana pun juga semua mahasiswa dalam satu kampus adalah keluarga yang harus saling mengisi dan mengasihi, terlepas dari apapun warna bendera. bahkan yang tak punya bendera sekalipun. sehingga, kecanggungan reda dengan ngopi bersama.

TIDAK perlu ditanya lagi, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa Organisasi Mahasiswa intern senantiasa menjadi ajang perebutan tahta oleh Organisasi Mahasiswa ekstern mahasiswa. organisasi intern menjadi lahan garapan di kancah perpolitikan nun pemilu mahasiswa.
Organisasi Mahasiswa demikian di istilahkan “Omas”. pada ranah intern juga ekstern.
nyaris tak bisa dibedakan antara karakter Omas intern atau Omas ekstern pada pergumulan Pemilu Mahasiswa (Pemiluma). hal itu dapat dilihat dari indikasi sebuah kesamaan corak kepentingan.
Dapat dilihat dari teknik kerja yang ditempuh omas ekstern mahasiswa, dengan melejitkan figur yang “marketable” agar dapat mengais banyak suara pada Pemiluma.
pada tinggkat HMJ, keterlibatan atas pembekalan dari organisasi ekstern, yaitu mahasiswa yang dari organisasi ekstern tertentu bagai diatas angin dan menjelma bak sebagai motivator. sehingga, sebagian besar mendominasi dan membawa pengaruh, baik pelaksanaan program kerja HMJ itu. Alhasil, secara praktis pengaruh organisasi ekstern adalah sebagai motivator, pemberdaya, dan pemberi warna organisasi intern. 
tapi sering terjadi “perang dingin” organisasi intern yang berada di tahta BEM/DEMA. dengan organisasi ekstern, meski sebetulnya itu hanya cerminan manuver politik segelintir organisasi ekstern yang berbeda garis pergerakan.
aktivis yang merangsek naik ke tahta BEM/DEMA, sering dimaknai sebagai manivestasi dari organisasi ekstern tertentu. seolah memiliki wewenang istimewa untuk menampung aspirasi bawah dan terkesan harus ditandingi organisasi ekstern lain. hal ini berdampak pada: pertama, menafikkan peran mahasiswa yang sedianya berada di luar garis lingkaran organisasi ekstern tertentu. dan bahkan hanya dijadikan objek belaka. kedua, kadang menghambat kerja organisasi intern pada perealisasian program kerja, sebab kabut perang dingin yang membuat canggung-sunkan sampai segan personal yang berasal dari organ ekstern yang berbeda, utamanya pada tarik-menarik berbagai kepentingan yang memjangkit. mungkin, akan bijak. atau bahkan sudah keharusan mengakui ini. bahwa kita, belum dewasa ber-“politik”.
ketiga, pandangan skeptis atas kinerja dan pembenaran ide-ide yang dikembangkan dalam lingkaran kemahasiswaan organ ekstern tertentu, menjadi penjelas setiap bahwa organ ekstern memiliki karakteristik dan corak berbeda dengan yang lain. tetapi sikap menerima kebenaran dari organisasi lain jarang dimaknai sebagai obat pereda Is dengki. bahkan anggapan kebenaran harus barasal dari bendera kita.
dalam pada itu, perlu dikembangkan sikap inklusif dan transformatif di antara organisasi kemahasiswaan yang ada. baik intern maupun ekstern. bagaimana pun juga semua mahasiswa dalam satu kampus adalah keluarga yang harus saling mengisi dan mengasihi, terlepas dari apapun warna bendera. bahkan yang tak punya bendera sekalipun. sehingga, kecanggungan reda dengan ngopi bersama.

secoretsajak¬†“‚ÄčJarak, teluk lalong, dan pertautan kita”

Menekur di sudut warung kopi

Menyesapi jarak yang kian merentangi kita

Dan waktu meliuk dengan pelannya

Seolah telah berdamai dengan jarak 
Mengapa Angin berdesir dengan tingkah yang tak sama dengan hembusan kemarin sore? 

saat masih dapat aku tatap mata jelitamu
Tak biasanya angin berlaku seperti itu
Atau ini karena teluk lalong, yang  masih juga tak sanggup meruntuhkan rindu
 Entahlah, nyatanya aku juga tak mampu maknai jarak yang merentangi jangkau kita, juga waktu
Ruang semestaku gamang

Karena kursi disebelahku

Di sudut warung kopi ini

Tak ada kamu