Rindu yang sakit

Semenjak mula hampa

Acap tawa dan gurat senyum tanpa sebutan, tanpa ucapan-ucapan

Sekali waktu, temu adalah hujan yang membabibuta hari dalam dada

Aku Kadang rela mematung diri

Aku tak mengerti itu

Tak datang tiga kali

Perihal yang tumpah ruah sepanjang dada

Seusai rebah percakapan yang mengoyak tawa

Tangis menggenang di mata

Basah sepenuhnya di dada

Aku meraba penyangga

Membangun senyum yang taksa

Tak sedikit yang sedia memapah percakapan menuju semestaku

Melabuhkan khayalan dalam peluk angan

Bersamuh andai dan seluas lautan

Tapi tetap saja

Aku masih beku

Melukis malam di ingatan

Belum sedia menenggelamkan luka

Aku masih menikmati tatapku

Mengamati dalam sepenuh sepi

Kau membalik diri, mengarak diri, menarik ingin

Di atas gigil pagi kau abai perihal yang semisal

Aku yang mula, merapung semata

Semenjak mula, degupku rela membatu

Di laman senyummu

Advertisements

kehancuran

perbincangan itu

aku yang menginginkannya

rengkuhku tak tertahan

genggamku semakin pudar

meski melampaui suatu

meski melawan sesuatu

 

perbincangan itu

ada yang lepas

separuh hidupku lepas

tandas

di genggamanmu

 

seketsa kepergian

siang di ambang peralihannya

pergantian masa adalah seketsa kepergian yang menyerah pada keputusan.

halaman rumah menyembunyikan muramnya dari pagi, dari sore, dari malam, hingga pagi menyapa lagi.

persimpangan jalan menjadi pengingat pelukan kepedihan

undak-undakan jalan tak lagi memahami diri, dan tak bisa memaafkan diri sendiri, karena telah menjadikan rintih, dan jeritmu menyesaki ruang yang aku yakin, kini masih belum tanggal dari ingatanmu.

kini aku hanya tinggal jadi penyamun ucapan selamat tinggal yang tak lengkap.

pada lirih malam, aku tak bisa menyudahi merapal kalimat-kalimat percakapan yang menyulam derit waktu yang retak

matamu kini senja

wajahmu kini pagi

senyummu kini malam

lalu suaramu adalah cuaca yang membalik tubuhnya pada semestaku

karena hadirmu, adalah nanti yang tak pernah pasti.

Menunggu yang sepi

Aku duduk di antara lalu-lalang, dan diantara kebisingan yang tak ramah.

Kemudian aku tetap duduk, sampai aku merasa telah masuk ke bilik paling sunyi.

Aku menunggu, sementara, aku pun ditunggu.

Lalu menunggu tak lain adalah sunyi

Paling sunyi

Sunyi di antara lalu-lalang dan kebisingan yang tak ramah.

Puisi dalam buku jingga yang belum sempat aku baca tadi pagi, teringat lagi, ia memanggilku, lalu aku berpura-pura tidak mendengar

Pelataran yang dipenuhi sepeda motor yang sakit juga tak memberi solusi apa-apa, ia hanya sibuk menikmati pijatan montir-montir bercelana hitam.

Bahkan rumah makan di sebrang jalan juga tak membuat aku ingin makan.

Kemudian aku ingat kata-kata tak terlalu panjang di story Whatsappmu. Kau iba dan mengutuk tindakan yang mengguris nurani.

Sementara yang belum terungkai, kau anggap sebagai perbincangan yang memang harus ditunda.

Payau

Sepertinya memang tak ada yang lebih membingungkan, dari kesempatan yang telah lepas dari harapan.

Ia memanggil lagi, membuka halaman dan etalase sepenuh waktu,

Sepenuh hari-hari yang masih bisa dihitung jari, gamang mencekat bigitu panjang.

Air infus, dengan potongan buah mengintip bibir pancuran yang membuatnya habis.

Tapi air teluk yang beberapa minggu terakhir begitu akrab dengan suara tangis.

Mengais.

Puing puing.

Puing kata

Menusuk angan yang lengang

Perbincangan yang tak kuinginkan

Perbincangan yang terlalu renta perihal kasih sayang

Menggantung perumpamaan

Membangunkan segala yang telah lelap di pembaringan relung yang sebegitunya sepi

Lalu aku aku seperti tak bisa berdiri pada yang telah aku pijak

Tak bisa lagi menjadi diri sendiri

Apalagi berdiam pada kesendirian

Dan sepertinya aku akan menuju kepulangan-kepulangan yang tak memiliki jalan, dan tak menanggung beban selamat tinggal.

Terpaut

Kau tahu, kasih, aku tak begitu paham dengan perpisahan, ia seperti anggukan bersamuh keterpaksaan,

Aku juga tak paham tentang ucapan selamat tinggal,

Sayang, aku tak pandai bemberi ucapan selamat tinggal atas kepergianmu yang tak bisa tertunda.

Atas pilihanmu yang tak bisa di ubah

Kataku, jangan sampai ada kesedihan tertinggal

Katamu; kesedihan selalu ada di setiap sudut-sudut perpisahan

Kita harus mulai membuka diri pada pelukan kesukaran.

Dan kita, kekasih, harus bisa berdamai dengan keadaan.

Kota dan hal hal yang usai

Pinggiran sore
Beranda talise

Selalu jadi tempat yang ramah, untuk mengingat-ingat sebuah cerita yang terpaksa, harus berakhir

Seperti halnya senja yang tak pernah lama, begitu susah dan sukar menemui pemberhentian, ia hanya singga di peralihan siang yang menua menuju malam

Hanya keinginan yang tertinggal
Bersama harapan yang sunyi
Dan hal-hal yang tak selesai
Terbengkalai

Tak seperti resammu, yang seketika hadir, sekalipun tanpa seizin malam yang kadang cepat linsir, resammu begitu lekat merengkuh pusaran semestaku

Karena saat seperti itu, adalah saat yang tak jauh beda dimana sadarku meremang dalam ingatan yang dibangun dari kisah yang patah.

Aku masih ingat benar, pada setiap kata, dan hangat helaan napasmu yang mengental dan memendung mendekap beranda semestaku.

Sementara hening masih saja sanggup membangunkan gambar wajahmu pada tembikar yang memiliki papan nama bertuliskan kenangan.

Dan perlahan aku pergi meninggalkan diri sendiri
Lalu aku menjadi diriku yang asing

Mata kananku bersusah-payah melirik mata kiriku, lalu mata kiriku juga bersusah-payah menyembunyikan resah yang semakin tak ramah.

Dasir semilir angin akhir hari, sebegitunya telaten menyisir setiap lekuk kelok sungai yang membelah kota ini, tetapi tetap tak sanggup menyejukkan dada dan kepalaku dari bara keberlaluan.

Sementara diamku, menjadi riuh yang paling gemuruh daripada debur air teluk kota ini

Sehingga, rindu yang semakin pucat karena ditinggal rasa itu, tak lagi bisa memilih arah

Palu, 06 Februari 2018

kota dan segala kita

Kota adalah pertemuan, mempertemukan yang direncana, maupun yang samasekali tak dinyana.

Seperti kita, berada di keduanya. Kau dan aku tak berencana, namun Kota ini telah direncanakan untuk pertemuan kita.

Serta percakapan-percakapannya.

Di kota ini, lalu-lalang adalah sisi percakapan kita, dan kedai kecil di sudut perempatan, manjadi satu dari sekian keriuhan rindu kita. Karena disana ada kopi dan buku puisi beserta hal-hal yang menyertai.

Lalu tercipta percakapan dan puisi-puisi kita, juga segala hal tentang kita.

Sementara, taman yang lapang di jalan balai kota, sempat jadi penyangga kekecewaan dan keputusasaan yang ditakdirkan tak berkepanjangan.

Hingga keputusan-keputusan kita, sempat menjadi sekat yang membawa dirinya pada percakapan yang patah.

Tapi kemudian sebuah perjalanan, telah jadi rekat, untuk melanjutkan segala kita di kota ini.

Kita tak berasal dan tak bermula dari kota ini

Aku punya kota, dan kau dari kota yang beda, suatu saat aku kembali ke kotaku, dan kau sudah kembali ke kotamu.

Namun, kekasih, begitulah harapan. Kotamu dan kotaku, menjadi kota kita.

Kotamu kotaku, kotaku pun begitu

Dan, kota yang mempertemukan kita ini, tersemat sebagai awal dari segalanya.

Segala kita.

Tubuh Rasa

Aku tak bermaksud membuka lipatan yang telah tersimpan

Atau setiap letupan-letuapan yang silam pernah begitu deru di dasar tubuh ku, tak ada maksudku menggemakan lagi

Tubuh rasa sebegitunya letih, tak mampu aku gerakkan sekadar merasakan pelukan luka dan perih.

Kemudian saat yang tak masuk dalam daftar keinginan dalam kepala, telah datang dan tersisip oleh persetujuan dada.

Yaitu saat mata, dagu, pipi, dan segala dia, begitu lekat pada mataku.

Bahkan dia sandarkan kepala pada selapangnya pundakku. Dan bahkan sebaliknya.

Tubuhnya tak lagi asing bagi tubuhku.

Kemudian, ingatan tentang jarak dan waktu seketika lenyap

Hingga aku sebenar-benarnya kleyang dalam dekap angin yang tak menyudahi lalulalang, membawa tubuhku, hingga aku tak memiliki upaya menentukan keputusan-keputusan sendiri.

Aku tak lagi mampu, menamai setiap yang berdesir merambati tubuh rasa.

mengingatmu

Aku mengingatmu sebagai berkas yang gagal sampai ke dasar diriku, mengambang hambar membawa warna muram.

Membawa bias pada yang akan dan yang telah tersimpan pada arah yang selalu suka menepi di pipi petang

Dan redup menjadi sepenuhnya aku, karena hanya kesunyian yang merapung pada tungkai-tungkai langkah

Memunggungi gelap dan hanya sanggup bersimpuh pada ranting malam.

Lalu, Membiarkan hal yang telah luput, lalu-lalang lintasi titian yang aku sulam dari percakapan yang patah

Aku mengingatmu sebagai berkas yang gagal sampai di dasar diriku, mengambang hambar, membawa warna muram

Menjatuhkan sunyi

Dan mengulang kesunyian hingga tak mau tanggal dan tetap tinggal di mata yang sesak dengan kenangan

Dan tatapanmu adalah kehancuran.

mencabik-cabik setiap yang tertulis sebagai harapan, sebelum sempat terungkai oleh langit barat yang tak juga lelah menyenja

Lalu tubuhku terbuka, menunggu pelukan luka

Kesunyian leluasa mencengkram butir-butir waktu, yang sedari awal telah sedia memapah aku untuk sampai di beranda pagi

Kalut mendekap, mengajak aku untuk tak berajak dari gelap

Aku mengingatmu sebagai berkas yang gagal sampai di dasar diriku, mengambang hambar, membawa warna muram

Tapi sebelumnya, aku telah meluncur diantara masa, untuk mengumpulkan percik-percik ingatan tentang setiap hal yang telah lekas dan tuntas diwaktu yang lalu.

O’ letupan yang tak pernah terpikir untuk ku terka dan telah terlupa

O’ detik yang membuat aku sampai di hadapan pagi

Aku merindui bisikan angin pagi

Karena ternyata angin pagi masihlah dingin, namun gigilnya tak mampu membekukan kemelut dalam kepala.

Ia masih merupakan kerumitan yang mengungkung, dan mencemari semua yang tercurah dalam semestaku.

Lalu aku mengingatmu sebagai seberkas yang gagal sampai di dasar diriku, mengambang hambar, membawa warna muram

Namun tak sanggup menghapus yang telah terpatri dalam kenangan. Karena hanya kenangan yang mempu membuat aku berdamai dengan kesunyian, bersendiri memenuhi ruang sendiri

Dan hal yang paling aku syukuri adalah, ketika aku telah bisa menemukan cara terbaik mengingatmu,

Cara yang tak pernah di tuturkan arah

mengingatmu sebagai berkas yang ku selipkan dalam setiap bait-bait do’a,

penuh rasa, dan tanpa warna muram.