​Novel The Davinci Code.Penulis : Dan Brown

Novel ini, sempat menjadi perbincangan panas dan menggelitik di berbagai belahan dunia. Hal itu tak lain Karena kekontroversian soal fakta-fakta menyangkut Kristen yang di sajikan Dan Brown dengan begitu menarik dan membuat  siapapun yang membacanya, merasa tidak nyaman, jika tidak memikirkan atau mungkin juga membahasnya secara serius. Saya sempat tersentak, dengan kecerdasan Dan Brown dalam menulis novel ini. Membuat saya limbung ketika membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat dan seterusnya seperti membaca naskah film. Seolah plotnya disusun ala plot film. Menarik dan asyik. Juga seru.
Akan membuat tegang ketika membaca novel misteri, atau novel petualangan dan imu pengetahuan. Apa,lagi novel sejarah dan seni, serta, yang berkaitan dengan agama. Rasanya novel ini termasuk novel yang gurih dari  beberapa novel-novel yang masuk kategori tersebut, yang pernah saya baca. Sampai-sampai saya kebingungan untuk memperbandingkannya  dengan tetralogi burunya Pramudya Ananta Toer. Sekalipun berbeda genre. Tapi, Dan Brown agaknya menyampaikan cerita dengan alur yang sangat cepat, dan detail serta mendalam, tapi tidak membuat saya bosan. Saya berkali-kali mengakui kecerdasannya dalam membuat kasus dengan tingkat “detil” yang amat dan sangat.
Saya melihat, kelebihan novel ini adalah ‘dari gaya penulisannya’ yang begitu membuat penasaran, sehingga novel dengan tebal 500an halaman ini, begitu memikat, dan menimbulkan rasa enggan untuk melepaskannya. Ya, novel ini sangat berbeda dengan novel-novel petualangan lainnya, yang kadang membuat saya menemui kejenuhan pada suatu bagiannya. The Davinci Code memiliki sense yang kuat untuk membuat saya terus membaca dan membacanya hingga tamat.
Setelah saya perhatikan, ada sisi kelebihan yang lagi-lagi saya kagumi dari novel ini. Misal, kelihaian Dan Brown dalam membuat dan menetapkan bab-bab pendek yang dibikin sedemikian menarik  dan unik dengan kalimat pemicu penasaran yang gemeretak pada endingnya. Sehingga seoalah seperti serial drama, yang di akhir episode berhasil membuat penasaran sehingga tak segan menyaksikan kelanjutannya.
Ini juga hal menarik bagi saya, adanya pemisahan fokus cerita pada setiap bab yang berganti. Misalnya, bab yang membahas tentang Sophie Neveu, bab selanjutnya membahas Robert Langdon, bab selanjutnya membahas Opus Dei, kemudian selanjutnya membahas Bezu Fache, dan bab berikutnya membahas Robert Langdon lagi. Dan terus barganti. Sehingga sanggup membuat saya terus baca-baca dan baca lagi sampe lapar dan terus lelah.
Dan Brown seperti dosen mata kuliah sejarah di kelas saya. Yang membawakan materi seperti mendongeng dan tidak membosankan. Membuat suasana dalam kelas menjadi seolah kembali pada masa sejarah itu terjadi. Sehingga saya berpandangan, Dan Brown sangatlah keren untuk membawa opini pembaca mencurigai sosok ‘sang guru’ yang ternyata adalah Bezu Fache. Pada bagian-bagian akhir saya baru mengerti, menjelang terbukanya rahasia identitas sang guru. 
Pada konsep pemilihan musuh, dalam novel ini, Dan Brown menggunakan konsep ‘musuh dalam selimut’ yang lumayan mengejutkan. Yang ketika di awal-awal hingga menjelang pertengahan novel ini, saya tidak menduganya.  Meski saya merasa, untuk konsep ini sedikit agak monoton.
Saya tidak peduli, jika klise dalam saya mengagumi berulang-ulang novel ini. Dialog antar tokoh yang begitu cerdas dibangun oleh Dan Brown, membuat pembaca seolah terlibat di dalamnya. Pembaca dibuat merasakan kengerian, ketakutakutan, ketegangan, kekhawatiran dan hal-hal yang membuat pikiran dan perasaan teraduk-aduk dan tumpah ruah tak terhingga.
Ada bagian-bagian yang tidak singkron pada novel ini, saya menyakini, Dan Brown sengaja membuat itu. Namun, keganjilan-keganjilan itu terjabarkan setelah identitas sang guru yang sebenarnya terkuak. Semua menjadi sangat gamblang flashback detilnya dari kejadian tersebut di bab-bab akhir. Memang ada beberapa fakta yang tanpa perlu dijelaskan, pembaca sudah dapat menduga dan mengerti misterinya. Dan ada juga yang perlu dijelaskan, hanya untuk sekadar memastikan sumua pauzzle yang tercecer dari ceritanya, sudah terpasang. Dan pembaca tinggal melengkapinya.
 Dan dari semua keseruan yang disajikan, memuat saya merasa kekurangan dalam novel ini menjadi tidak berarti. Jika di perbandingkan dengan kejeniusan Dan Brown dalam bercerita, dan pemilihan gagasan dalam bercerita. Dan itulah Dan Brown, yang lihai dan doyan bercerita dengan tingkat detil ‘kelas dewa’. menurut ukuran saya.
    

Advertisements

secoretsajak “Jarak, teluk lalong, dan pertautan kita”

Menekur di sudut warung kopi

Menyesapi jarak yang kian merentangi kita

Dan waktu meliuk dengan pelannya

Seolah telah berdamai dengan jarak
Mengapa Angin berdesir dengan tingkah yang tak sama dengan hembusan kemarin sore?

saat masih dapat aku tatapu mata jelitamu
Tak biasanya angin berlaku seperti itu
Atau ini karena teluk lalong, yang masih juga tak sanggup meruntuhkan rindu
Entahlah, nyatanya aku juga tak mampu maknai jarak yang merentangi jangkau kita, juga waktu
Ruang semestaku gamang

Karena kursi disebelahku

Di sudut warung kopi ini

Tak ada kamu