Bimbang, di pagi yang menentukan”

Kadang masih bimbang pada yang aku yakini, dan kupilih

Yang nampak hanya keraguan yang diyakini.

Tapi kau jangan bertanya tentang pilihan

Sedang aku, masih begitu mudahnya limbung dari itu

Kan waktu masih menjadi keyakinan yang meyakinkan

Sedang angan semakin menepi dan terperosok diantara yakin dan ragu

Entah, dimana tempat yang paling tepat untuk pilihan.

                   Rasanya tidak ada
Sandaran nampak begitu mudahnya bergeser. Dan 

Di pagi yang menentukan itu

“Aku tak mengenal lagi diriku”

Jiwaku berlumur keterasingan

Dan masih tak mengerti

Hingga harus dituntut berdamai dengan sesal

Yang bisa jadi, akan menyapa tanpa permisi di tengah lengang
Ini tidak ada hal, dengan kepastian

Jadi, kau, juga jangan bertanya tentang itu

Karena sudahlah pasti, aku tak akan membawa kepastian untuk pilihan, juga untukmu
Karena aku juga percaya

“Satu-satunya yang paling berharga dalam hidup adalah ketidak pastian hidup”;

        Itu perkataan Kenko
Namun kau harus tahu

Aku hanya akan mengajakmu memilih dan mencari kepastian bersama.

Advertisements

Entahlah

Baru saja berlalu

Derik-derik samar tak terjelaskan

Perlahan, kadang juga memburu

Lalu senja termenung

Nampaknya bingung

Aku juga tak tahu pasti

Entah

Aku yang beranjak?

Atau kau yang pergi?

Mungkinkah hanya senja  sendiri yang berlalu?
Firasat semakin tirus

Dan kaca mata, tak mampu mengurung resah

Juga tak mampu menyesap air mata 
Seandainya sore tak mampu aku lewati.

Setidaknya kita pernah membahas awan diantara redup-redam langit  yang nampak pasrah, di barat itu
Aku tak butuh pertautan 

Cukup malam,

Yang dapat menjelaskan segala kegamangan

Dan yang menyirat keraguan.

Juga kenangan

Tatap paruh waktu

Paruh waktu yang telah lalu, adalah perbincangan di ujung tatap mata bulan, bersamuh senyumu yang juga telah lalu.

Tak ada sisa, selain cerita yang tertinggal disana.

Yang disebut kenangan hanyalah senyummu.

 Dan kita menamai mimpi yang telah kita letakkan diantara jalan pulangmu dan jalan pergimu, memjadi batas harapan.

Tapi Aku akan menertawakan

 cadas sepi

Yang telah gagal

 membuat kau sedih

Telah

Rindu yang semakin tirus dan malam yang masih menyembunyikan sajak-sajak yang telah memfatamorganakan golak yang kian menjelma resah.

Karena aku

Telah

Terperangai dalam sebentuk bilik tirus, dan itu adalah sedari kau menghendaki.

Dan kau perkenankan aku jadi ilusi, serta pekat malam tak mampu menyamarkan yang telah terjadi.

Rahasia

Rasa menjadi rahasia yang paling rahasia

Suara demi suara menjadi ilusi yang semakin ilusi

Kan awan tidak pernah menyebut dirinya awan

Kan angin tak pernah menamai hembusnya

Tak lain juga bahwa jangkau, tak harus disandingkan dengan jarak dan rasa

Karena itu cukup membuat rahasia semakin rahasia dalam kelam yang semakin kelam

Ingatan

Ketika tepi pematang membisik, aku menerka, itu suaramu yang kau titip.

 Ketika kleyang(ujung dedaunan) menarik lirik, aku umpamakan gerai kerling ujung pelupukmu. 

Menjagamu dari terkam sunyi, tak lain mencabut rumput liar pada sisi-sisi tanaman yang ku sayang. 

Kadang aku ingin benar-benar lupa, cara mengingat-ingat yang telah terlupa.

Seperti pucuk-pucuk yang tak ingat kapan ia mulai tersemai dan terbentuk, yang juga tak enggan terjamah bulir-bulir embun hingga akhirnya pun merunduk. 

Seperti akar yang selalu merindu air

Semestaku adalah ingatan yang rindu melupakan, suasana, musim, kita dan segala yang menyertainya.

Secoretsajak, “laut”

Setiap percakapan kita adalah lautan, yang menjadi sisi pertemuan keraguan dan keyakinan yang begitu jauh ada di kedalaman kita.

Dan tatapanmu adalah debur yang yang mengikis resah

Dan setiap kata yang kau gerai, adalah yang selalu karam di dasar ingatan.

Karena aku adalah yang sebegitunya dangkal pada hampar yang dinamai daratan
Yang ketika dihadapanmu, memberanikani diri menggenang seperti lautan.

Secoretsajak, “tatapku”

Maaf

Baru detik ini aku sanggup melihatmu, dan segala yang temaram tak akan lagi mampu menyamarkanmu

Aku kini melihatmu diantara yang mencemaskan dan meragukan

Dan ciuman pada halimun wajahmu adalah yang begitu lama

Aku kini bisa melihatmu, menulis kisah di kejauhan dan menghapus ketidaksampaian

Mungkin aku adalah kesiasiaan, karena aku sempat menaruh ingin pada apa yang sedianya tak mungkin

Dan aku pernah mengguris angan pada sederet ketidaksanggupan

Kini aku melihatmu, kau jauh sebegitunya namun baru aku dipeluk sadar, kau indah sungguh

Kini aku melihatmu diantara bait-bait malam yang tak mampu aku eja saat pulang

Kini aku melihatmu dan menghening disetiap riuhku

Kini aku melihatmu di antara nyanyian malam yang tak akan lama direnggut pagi

Kini aku melihatmu diantara yang nampak dan yang akan tertapak

Dan aku melihatmu mengirai segala kesukaran melandai

Dan aku melihatmu merakit titian, untuk ku titih langkah pulang

Kau kini tersemai ambang getar dan debar yang sebegitunya sebati

Dan kau duduk di pelantar impiku, menyimpan kata selamat datang.

Dan merengkuh kenangan kelam

Jelaga kota

Di tingkah cuaca mana aku mesti memintal pinta melebur kasih, agar rindu-rindu yang tersemat samar itu dapat tertingkap

Di tingkah cuaca kota yang tak pernah sanggup ditebak, kau pernah meninggalkan samar rindu ke dalam doa menikam malam gelap sunyi yang dipeluk lembah, gunung, laut yang merengkuh remang senja

Dan telah kunukilkan harap di bawah telapak hariku yang telah tersulut hening pada sudut jalan perumahan yang bercermin pada lalu-lalang

Di sebuaah perjalanan, kau pernah menunjuk persinggahan untuk semangkuk kaledo, yang kini hanya tinggal menjadi semangkuk rindu.

Pernah juga di sebuah bukit yang dinamai dari salaksa damai, kau nenunjuk ke arah barat, dan aku melihat dikejauhan tampak ada garis lengkung berwarna kuning yang menyatukan dua belah kota ini, seketika itu juga aku berdoa, “semoga percakapan malam itu seperti garis lengkung kuning itu, penyatu hal yang tak tentu

Adakah mesti aku harus menetak angan pada raga di lengkung teluk yang tak menyuguhkan sudut itu?

Di remang pagi aku lelah meniti

Di temaram senja aku lelah merajut kata

Di remah angan, aku lelah merindu pelukan

Dan di kota ini, aku tanam ingatan

SKP-HAM Akan Rayakan Hari Jadi Ke-13 

Solidaritas Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) akan merayakan hari jadi ke 13 dengan tema ” 13 Tahun SKP HAM Merayakan Semangat Juang Penyintas”, Kamis (19/10/2017)

Nurlaela Lamasitudju, Sekjend SKP-HAM Sulteng, menjelaskan konsep yang diangkat dalam acara perayaan tersebut adalah Pertunjukan seni, diskusi kemanusiaan dan bazar sebagai bentuk apresiasi karya para penyintas dampingan SKP-HAM yang mengalami diskriminasi, dan dalam acara tersebut tidak membuka kritik atau saran.

“Harapannya di acara nanti akan ada apresiasi karya para penyintas korban pelanggaran HAM, dan kami tidak akan membuka kritik atau saran, karena mereka sudah sangat luar biasa dari pada kita yang tidak mengalami diskriminasi”  ungkapnya.

Karya dari para penyitas nanti akan di pamerkan dengan tema “Bazar Peduliku”, dan produk-produk kerajinan diantaranya tenun, rajutan dan kerajinan kerajinan lainnya. 

Dalam acara tersebut, juga akan diisi dengan pertunjukan musik dari penyanyi lokal, Sisi Laborahima dan Gio mandike. Sedangkan pembacaan puisi akan dibawakan olrh para pemuda Komunitas Puisi Harmoni (Kopi Harmoni) Kota Palu.

Ela juga menjelaskan bahwa dalam perayaan tersebuat akan ada diskusi kemanusiaan volume 02, dengan pola diskusi lebih luas membahas soal kemanusiaa.

“Kalau diskusi kemanusiaan volume 1 hanya fokus pada korban pelanggaran HAM 65-66, diskusi volume ini akan membahas diskriminasi HAM lebih luas” jelasnya.

Diantara penyintas yang didampingi oleh SKP-HAM yang akan didiskusian adalah ODHA, Difabel, korban KDRT, Trafficking (perdagangan manusia), korban pemerkosaan, eksploitasi seksual, dan lain sebagainya.

Ela juga menjelaskan bahwa para penyintas selain mengalami permasalahan diskriminasi sosial, mereka juga mengalami persoalan ekonomi.

“Permasalahan mereka sangat kompleks, sudah dikucilkan, mengalami keterbatasan fisik, dan masih harus nencari nafkah untuk kebutuhan mereka sendiri dan keluarga mereka, sehingga sudah tidak pantas ketika kita mengkritik mereka” tandasnya.