Taste, not feel

“Kita jangan ikut arus” tutur lelaki paruh baya bermata nyaris sipit itu

Setiap kata yang meluncur darinya, lebih berwarna sindiran yang membangkitkan semangat ‘merenungi’ gelegat diri muda ini

“Yang terpenting itu ‘taste’, bukan feel” pituturnya lagi

Dan aku mulai merenung

Advertisements

Namamu Kini

Langkahmu kini tak dilihat

Ucapmu kini tak didengar

Rengkuh tanganmu kita tak dirasa

Kucuran peluhmu bukan untuk tepuk tangan, tapi itu hanya kau peruntukan pada senyum-senyum para pengguris masa setelahmu

Darah yang kau curahkan tak kau ingini jadi pengakuan, tapi kau hendaki jadi jalan untuk tuan dan puan pelukis zaman setelahmu

Air mata yang kau jatuhkan tak kau harapkan jadi sanjungan, tapi kau hendaki menumbuhkan benih-benih perdamaian

Hari ini, ada catatan kosong yang seharusnya terisi perihal jasamu

Hari ini, namamu hanya jadi pelengkap pada dinding folklor yang hanya tinggal untuk di dongengkan, dan akan tanggal dari pemaknaan

Hari ini, namamu hanya jadi romantisme berbagai kepentingan yang semakin terpaut dengan kesejahteraan kaum pinggiran

Hari ini namamu hanya dijadikan pelengkap sakramen hiburan hingar-bingar peradapan

Hari ini, namamu hanya di kenal sebagai penanda tugu perempatan, nama jalan, taman pusat keramaian, dap pelengkap batu nisan

Dan hari ini, jasa-jasamu disimpan di gedung musium provinsi, yang tak tentu mendapat kunjungan tiap bulan

Tapi kau tak pernah menyesalkan semua itu

Kau mengajarkan hidup, untuk menghidupkan

Kau mengajarkan hidup adalah perjuangan tanpa terbilang

Kau mengajarkan setitik arti hidup

Di jagat kefanaan ini, kau telah menanam tiang pancang yang abadi tinimbang batu cadas dan tembok beton rumahan

Kau talah menjadi desir setiap helaan napas penghuni rumah kemerdekaan

Dan kau akan tetap menjadi penghuni sejarah, yang digurris dari tinta putih yang paling lekat pada perkamen zaman

Dan kau tetap setia jadi mandau pada pohon rindang bangsa kita yang mulai lucu-lucunya bermain wayang

Semoga kau mendapat salam dari setiap jiwa yang remang pada setiap keluhuranmu

Oh pahlawan

Oh INA

Gelarmu seperti singkatan penamaan negeri ini, dan rasanya itu hanya aku dapati di kota lembah ini.

Dalam hari yang bertingkah sebagaimana mestinya, kau menapaki jalan lengang, jalan sesak- hingga jalan itu lengang kembali

Kadang kau menjejakkan langkah di keramaian Impres, kadang juga di keriuhan masomba.

Kadang juga, melintasi halaman pertokoan, ruko dan gedung perkantoran untuk sekadan menjajakan yang bisa kau bawa

Tubuhmu selalu berpeluh, peluh yang pasti selalu dikibaskan mahkluk dengan tudung rapi dan wangi bunga kuburan, dan disapu dengan  selembar putih dari rintihan belantara.
Kau menjajakan pisang-pisang kecil bersama segurih kacang

Kadang kau juga membawa bejana yang berisi ikan yang kau sebut Bau.

Kau berjuang menutup telinga dari gelak tawa nasib yang memekakkan

Masih saja kau menopang segala yang kau jajakan, untuk menantang hari dan menyumpal mulut nasib yang katamu seperti ember pecah.

Kau masih berkutat dengan golak perasaan yang belum juga di mengerti waktu.

Oh ina, 

Semoga matahari bersedia selalu menjadi sahabatmu.

Sebelum mungkin

Harapan kerontang

Lunglai dan tergerai

Bersimpuh pada nyalak kesukaran

Bermimpi meski harus dipaksakan

Menukik segala kesah

Meski sekejap

Semusim lalu

Dengan tatapan memerahmu

Kau menyentuh hal yang paling mungkin

Dengan segala keriuhan angan

Dan deru ketidakpastian

Aku menjadi seonggok yang bertumpu pada ketabuan

Wajahmu melambai

Matamu berbisik

Rautmu menarik

Pada hampar palung ilusi

Dalam buai semu, aku menoreh ingin

Memandang lekat, dekat

Wajahmu.

Patri

Aku tak lihai menggerai kata-kata pada apa yang membelit bilik hari-hari kita.

Soal bising bisikan gelegat ambisi

Tak lain

Adalah angin yang kian terbahak mengucilkan aku yang semakin pura-pura tak bisa membedakan cita, dan cinta

Aku semakin menepi

Sedang kau, mematri lirik-lirik lirih

Dalam siul.

Dan kini, hal yang paling menenangkan nun sejuk, adalah jikalau senyummu tak berkelindan di awang anganku.

Hanyalah kau menggerai resah, tanpa rasa bersalah.

Namun sungguh

Seruang itu, belum tersimpai wajah.

Hanya. Sekadar samar resammu.

Dan entah sanggup terpatri rindu

Sabanamu

Tak ada rindang pada seluas sabanamu

Hingga angin berdesis pun segan

Menekuri jejak-jejak kelam itu

Menyesatkan pada hampar belantara tanpa geriakmu

Gunung kau buat menanti

Sewindu dalam sabanamu

Tanpa bekal kata, tanpa penunjuk waktu

Tak ada

Pagi yang masam

Belantara yang membuat kita menukik resah

Adakah perburuan yang kekal?

Adakah senja yang tak berujung?

Adakah dercak kagum yang tak berpangkal?

Adakah kota tak memiliki utara?
Tak ada sendu yang karenanya menunggu

Tak ada hembus yang karena angin lalu

Tak ada aku  menunggu selain senyummu

Bimbang, di pagi yang menentukan”

Kadang masih bimbang pada yang aku yakini, dan kupilih

Yang nampak hanya keraguan yang diyakini.

Tapi kau jangan bertanya tentang pilihan

Sedang aku, masih begitu mudahnya limbung dari itu

Kan waktu masih menjadi keyakinan yang meyakinkan

Sedang angan semakin menepi dan terperosok diantara yakin dan ragu

Entah, dimana tempat yang paling tepat untuk pilihan.

                   Rasanya tidak ada
Sandaran nampak begitu mudahnya bergeser. Dan 

Di pagi yang menentukan itu

“Aku tak mengenal lagi diriku”

Jiwaku berlumur keterasingan

Dan masih tak mengerti

Hingga harus dituntut berdamai dengan sesal

Yang bisa jadi, akan menyapa tanpa permisi di tengah lengang
Ini tidak ada hal, dengan kepastian

Jadi, kau, juga jangan bertanya tentang itu

Karena sudahlah pasti, aku tak akan membawa kepastian untuk pilihan, juga untukmu
Karena aku juga percaya

“Satu-satunya yang paling berharga dalam hidup adalah ketidak pastian hidup”;

        Itu perkataan Kenko
Namun kau harus tahu

Aku hanya akan mengajakmu memilih dan mencari kepastian bersama.

Entahlah

Baru saja berlalu

Derik-derik samar tak terjelaskan

Perlahan, kadang juga memburu

Lalu senja termenung

Nampaknya bingung

Aku juga tak tahu pasti

Entah

Aku yang beranjak?

Atau kau yang pergi?

Mungkinkah hanya senja  sendiri yang berlalu?
Firasat semakin tirus

Dan kaca mata, tak mampu mengurung resah

Juga tak mampu menyesap air mata 
Seandainya sore tak mampu aku lewati.

Setidaknya kita pernah membahas awan diantara redup-redam langit  yang nampak pasrah, di barat itu
Aku tak butuh pertautan 

Cukup malam,

Yang dapat menjelaskan segala kegamangan

Dan yang menyirat keraguan.

Juga kenangan

Tatap paruh waktu

Paruh waktu yang telah lalu, adalah perbincangan di ujung tatap mata bulan, bersamuh senyumu yang juga telah lalu.

Tak ada sisa, selain cerita yang tertinggal disana.

Yang disebut kenangan hanyalah senyummu.

 Dan kita menamai mimpi yang telah kita letakkan diantara jalan pulangmu dan jalan pergimu, memjadi batas harapan.

Tapi Aku akan menertawakan

 cadas sepi

Yang telah gagal

 membuat kau sedih