Secoretsajak, “detik”

Kemarin adalah cermin

Tak layak jika harus mengurung jiwa disana

Karena

Kilatannya adalah kelam

Detik-detiknya membayang sekadar dikenang

Harus sanggup membuka mata, hari ini

Merapikan kursi-kursi yang akan menyangga saat lelah berdiri

Memasang bingkai yang tergeletak menunggu harapan yang lapuk

Dan menemukan ketiadaan berjejer 

yang ada hanyalah pemberian

Lalu tak ada kata-kata lagi selain ‘terimakasih’


Esok adalah jalan

semampai di depan menunggu langkah-langkah tanpa menuntut keraguan

Tak satupun yang menjadi genggaman

Yang nampak adalah bayangan di balik bola mata

Maraung

Jika cermin, kau letakkan didepannya.

Advertisements

Secoretsajak, “delusi”

Di hari yang telah terhitung ratusan, aku menghafal namamu tanpa sadar.

Padahal selama ini aku punya masalah dalam hal mengingat nama orang.

Dan pertanyaanmu soal kabar, selalu saja datang, saat aku sendiri enggan memikirkan keadaanku. Hingga rasanya berucap  kabar baik adalah keterpaksaan yang wajib aku sampaikan

Aku tak pernah berani menanyakan pada ingatan, tentang pertimbangan-pertimbangan perihal sosok yang layak kau sebut ranum.

Karena di dalam kedalaman sosok yang ranum, perihal keniscayaan hanyalah milik kesempurnaan.

Lalu aku kembali mengingat-ingat setiap kata yang keluar menjadi ucapmu, dan kata-kata itu terlihat memilih jalannya sendiri dan kian menjauh dari kaki, tangan, mata, dan resammu.

Lalu yang meranggas dan runtuh itu adalah kepercayaan yang kian tanggal dari sadarku

Dan seharusnya, tak perlu lagi ada pertanyaan

Karena yang tertera hari ini, adalah nukilan-nukilan segala yang kita larutkan di kemarin

Hari ini, dan esok

Delusi

Disebakkan,

Membanjiri kepala-kepala, 

Membanjiri mata-mata yang haus pandang

Menjelma galat

Pada seluasnya ingatan-ingatan

.
Mengapa? kita masih menggerutkan dahi, pada luka-luka

Mengapa? kita masih nemicingkan batin pada derita-derita

Mengapa? kita masih memalingkan pandang pada rintih-rintih

Mengapa? kita masih melerai iba, pada kisah-kisah kelam itu

Atau, apakah kita memang sengaja, menyulam lupa, pada segala kelam yang telah silam.

Tatkala kita, masih selalu menutup mata

Maka, kegusaran bukanlah hal yang layak membuat angan tersulut gusar

Karena, kita, tak ada yang sebenar-benarnya sanggup menyuguhkan kepastian

 pada hampar semesta ruah 

Jika kita menitih langkah sesap pada titian keraguan-keraguan.

Maka, yang manis, jangan serta merta ditelan

Tatkala kita menapak jejak dengan langkah yang disesaki tanya

Maka yang pahit, jangan seketika dimuntahkan

Dan sungguh, jika kita “layangkan” sadar ini di kedalaman nurani 

yang sesunguh-sungguhnya nurani,

Tak ada manis, yang benar-benar manis

Tak ada pahit, yang benar-benar pahit

Jika kita menemukan ingin

Untuk meng-eja zaman

Maka jangan memintal sekat pada utara, selatan, barat, timur, dan segala yang kita namai arah

Manakala kita ingin memintal angan dan harapan,

Maka jangan menabur kesukaran-kesukaran pada segala yang kita namai sisi kehidupan

Waktu yang berkelindan nengitari semesta, akan menjadi saksi

Jika kita enggan memaknai rintih mereka yang silam

Niscaya…

Rintih itu akan jadi rintih kita esok

Jika kita tak sedia maknai luka-luka mereka yang silam

Niscaya…

 luka itu akan jadi luka kita esok

Jika kita memilih ketidaksangupan maknai kisah kelam mereka,

Niscaya…

kisah kelam itu, akan jadi kisah kelam kita esok

Mereka, adalah kita yang silam

Dan kita, adalah mereka, esok


Dan sungguh, 

Jikalau hari ini,

Kita Sukar

 Kita Rentangkan

Kita gamang

Kita enggan

Memaknai derita, luka, rintih, dan kisah kelam itu

Dan kita, masih saja sibuk berkutat menyematkan “salah dan benar” pada apa dan siapa,

Maka kita bukan Indonesia

Kita bukan Indonesia

Hari ini, dan

Esok

Secoretsajak, “umpama”

Aku tidak Lagi mencarimu, pada setiap kata yang ku eja dalam sajak-sajakku, yang pernah kau baca dengan sedikit ragu, nampaknya

Aku juga tak lagi menggerai umpama pada kertas-kertas dan sudut-sudut ruang yang pernah merubah acuh, jadi kukuh, hingga menuju rindu yang tak pernah dengan sengaja kita hendaki

Mungkin, sudah terukir maklumat, tentang kita yang hari ini tak ingin menempa harap

Hingga frasa yang selalu saja tercecer pada hal-hal yang telah, dan Pada perihal yang lekas, kembali meliuk. dan entah akan redam

Kau juga tak menanyakan lagi tentang tembikar yang pernah aku janjikan jadi penanda perbincangan yang tak juga lekas

Kau juga tak menanyakan gulistan beserta tanaman-tanaman yang aku rawat dan yang telah kusebut teman

Kau juga tak lagi menanyakan pemandangan persawahan dan pondok pelepah sagu, tempat aku berdiam dan mencurigai rindu, padamu

Tapi kau tak pernah tahu, bahwa aku mencurigai segala yang pernah mendapat tempat di bamgkir waktu dan hari-hari kita yang telah jadi lalu

Dan ketika terik tak bisa lagi ku bedakan dengan gelap, ingatan tentang semua kamu, serupa kawat berduri yang telah kau lilit, dan kau kuncikan pada tengkuk, imajiku.

Ada letupan paling naas, saat ruang yang penuh coretan dan gambar suasana saat senyummu begitu dekat dan dapat di tangkap mataku, telah diganti dengan dengan hiasan yang belum bisa aku namai indah, dan yang telah di pajangkan interior dengan simpai-simpai dan bingkai-bingkai masa yang juga belum bisa aku masukkan dalam kata, lema, frasa, atau yang pernah dengan mudah kita sulam dan kita ucap dalam sajak

Hingga aku akhirnya harus melerai getar yang pernah begitu riuh karena parasmu, dan degup karena resammu, dari setiap hadir dan sadar

Hingga kau tak lagi jadi umpama, dari setiap bulir-bulir makna yang tergerai.

Dan kau tak lagi jadi umpama pada setiap denting yang bercerita

Dan kau tak lagi jadi umpama pada angin siang yang menuntut sisi, dengan derunya yang lengking, Mengoyak-ngoyak perihal kisah yang silam.

Kau benar-benar tak lagi menjadi umpama

Kau benar-benar tak lagi umpama

Kau tak lagi umpama

Kini Kau

Bukan Umpama

Coretan,, “pitutur leluhur”

Menowo keno kanggo tambah kawruh:

1. Adigang, adigung, adiguna.

— Wong sing ngendelake kekuatane, keluhurane lan kapinterane.

2. Adhang-adhang tetesing embun

— Njagakne barang mung saolehe wae.

3. Aji godhong garing

— Barang kang ora nduwe aji babar pisan.

4. Ana catur mungkur

— Ora gelem ngrungokake rerasan sing ora becik.

5. Ana dhaulate ora ana begjane

— Wis arep nemu kabegjan nanging ora sida

6. Ana gula ana semut

— Panggonan sing ngerejekeni mesti akeh sing nekani.

7. Anak polah bapa kepradah

— Wong tuwa nemu reribed amarga saka polahe anak.

8. Ancik-ancik pucuking eri

— Wong kang tansah sumelang yen keluputan.

9. Anggutuk lor kena kidul

— Ngangkah marang sawijining wong katibak ake marang wong liya.

10. Angon mangsa

— Golek wektu sing prayoga.

11. Angon ulat ngumbar tangan

— Nyawang kahanan arep nglimpe.

12. Arep jamure emoh watange

— Gelem kepenake ora gelem rekasane.

13. Asu arebut balung

— Podo rerebutan barang sing sepele.

14. Asu gede menang kerahe

— Wong sing gedhe pangkate mesti luweh gedhe panguwasane.

15. Asu marani gepuk

— njarak marani bebayan

16. Ati bengkong oleh oncong

— Duwe niyat ala oleh dalan.

17. Baladewa ilang gapite

— Ilang kaluhurane.

18. Banyu pinerang

— Pasulayane sadulur mesti enggal pulihe.

19. Bathang lelaku

— Wong lelungan ngambah panggonan sing mbebayani.

20. Bathok bolu isi madu

— Wong asor nanging sugih kepinteran

Secoretsajak, “kata”

Malam ini

Kita tak sanggup melipat jarak

Aku kelu, melukis wajahmu pada kata

Aku mencari hadirmu di kedalaman kata

Aku menyimpai perbincangan kita pada kata

Aku pasang senyummu dalam kata

Suaramu juga ku sematkan dalam kata

Kita sering mengadu pada kata

Kita sering berharap pada kata

Ketika kita tak mampu menyingkap makna.

Kita kadang mengeluh pada kata

 kadang juga, kita kecewa pada kata

Kita juga pernah begitu marah pada kata

Sempat kita, bertengger di beranda kata

Tapi aku lebih takut mengabu dalam kata

Sedari menghitam pada masa

Dan angan kita yang beterbangan, hinggap pada kata

Secoretsajak, “kau, fana yang nyata”

Aku memaksa menyelinap di kedalaman hadirmu yang sebenarnya hanyalah ketiadaan

Sejauh lekat lepas dari pandang mataku, merakit ketidaksanggupan pada apa yang sedianya telah silam

Kelam seakan meminta kembali pulang pada tawa kita, dan pada hal-hal yang belum kita perbincangkan

Ketika aku memutuskan untuk melupakanmu, itu adalah aku mengingatku begitu dalam

Ketika aku beranjak tak mencintaimu, itu adalah nyata aku mencintaimu sungguh

Aku adalah ketidaksanggupan mengelak, pada semesta yang berucap

Aku adalah kelemahan yang bertahan pada ketanpaan

Dan aku adalah keberanian yang dalam ketakutan-ketakutan, menjelma pada keterlambatan

Pada simpai pertautan kita, dan waktu mengitari kita, adalah kebohongan-kebohongan dalam kejujuran masa

Dalam segalamu yang tak pernah lekas dari golak, aku sedia jadi sandarmu jika kau butuh

Tapi aku tak akan sedia jika kau menempa derit ingin

Karena aku hanya untuk kau butuh, bukan untuk kau ingin

Sekalipun kau tak menginginkan dawai yang selalu saja melintasi anganmu, pada hingar –bingar obsesi pagimu

Aku harap kau memeluk jiwamu, aku harap kau dekap nuranimu, aku harap kau menatap relungmu

Jangan kau mengguris nurani yang tak kuingini, terguris segala yang mengurung sadar dan prasangka

Tapi kau tak perlu gusar saat kau terhunus sepi

Kau tak perlu resah saat kau terhunus sadar 

Yang karena akan membawamu limbung

Aku akan tetap ada 

Aku masih ada

dalam kau fana yang sebegitunya nya

Dan semuanya

Dan sekali lagi aku ucap padamu

Karena aku

Hanya untuk kau butuh, bukan untuk kau ingin

Secoretsajak,”ambang nanti”

Ternyata, sunyi adalah perihal yang membakung di mata perempuan yang pernah tersebut namanya dalam sadar dan lupa

Tapi bukankah siang tak selalu menjanjikan terik, malam yang tak  selamanya pekat, dan kemarin tak selalu kelam, bukan?

bersama selarik hasrat dan sejimpit angan yang mengambang, kujadikan perkata dalam percakapan kita, jadi secabik tabir pada bangkir semestaku

Sedenyut nadi pada gurat yang membiru, tak kuijinkan menjadi janji-janji yang masih akan, sebab hadir, serupa angin yang tak mau pulang pada yang selain arah. 

Untukmu yang pernah tidur di pelukan penghianatan angan paling salju

Untukmu yang pura-pura menabur kerling bersamuh senyum

Untukmu yang merasa mengenal aku

Dengarkanlah

Di waktu yang paling akan dan paling nanti,

Akan kau tahu. 

Akan kau lihat

Akan kau kenal

Sebenar-benarnya aku

Yang tak pernah tandas dan lekas sedari lalu

Kan kau pun tahu 

indah tak selalu senja bukan?!

Indah tak selalu pagi bukan?!

Ketika mimpimu tuk menggapainya  dan tanganmu tuk meraihnya, dan segala itu masih sekadar mungkin dan ketidaksanggupan.

Akan tertawa denting jika itu kau bentang pada sepelupuk pupil inginmu.

Dan ketika semua itu telah mengabu, biarkan adaku tersulam sebatas degupmu, tersebab riuh telah menarikku kesana
Relung ini akan terus menapak rintik, yang menyungai di lekuk-lekuk mataku pada setiap bilur-bilur lukamu tereja pelupukku

Tentang esok yang masih mungkin; bacalah titik rindu yang mengembun dan memeluk daun kering di halaman semesta kita, ada jejak sukar yang masih membekas di jalan lengang, disana, dan dapat kau pastikan, aku akan membuka pintu perihal angan paling awal

Engkau; perempuan yang kusebut bersisian pada sunyi, dari luka juga rindu dan penghianatan angan paling salju

Kau yang mendaku; mengenalku

Kau, akan sepenuh-penuhnya tahu

Kau, akan sebenar-benarnya mengarti

Segala Aku

Yang sungguh Aku

Nanti

Secoretsajak, “lembar”

Sebermula yang telah menemukan jeda, aku tak ubahnya sisi pohon yang tak tersentuh terik

Hanya serupa bayangan yang menapaki tanah liat di bawah dahan keselarasan.

Lalu aku berganti ketika waktu telah linsir, sebelum pada akhir nanti, kalap pada senja yang pendarnya hanya sekejap.

Lalu gelap membisik, dan ternyata juga memeluk, dan tak pernah terduga juga telah menyandra setiap angan yang sungguh segera ingin ku lepas.

Ketika itu, tenang telah merubah resam kelamnya menjadi larik-larik keniscayaan

Dan ketika gelap tak mau di panggil pulang, ia telah merayu dingin untuk membawa wajah yang sekarang tak ingin ku ingat-ingat pemiliknya, dan gigilku tersemat wajah itu menjadi maklumat yang menyekat imajiku

Maklumat yang tak ingin ku namai itu, menjadi lembar-lembar yang tertempel pada dinding mimpi yang tak diinginkan pagi.

Lalu aku harus berkata apa pada terik yang akan menyapa?

Ketika hanya abu yang tersisa dalam nyanyian gelap pada lembar-lembar maklumat