Secoretsajak, “nyata’

Aku memaksa menyelinap di kedalaman hadirmu yang sebenarnya hanyalah ketiadaan

Sejauh kehijauan lapas pandang mataku, merakit ketidaksanggupan pada apa yang sedianya telah silam

Kelam, seakan meminta kembali pulang pada tawa kita, dan pada hal-hal dari kita yang belum kita perbincangkan

Ketika aku memutuskan untuk melupakanmu, itu adalah aku mengingatmu begitu dalam

Saat aku beranjak tak mencintaimu, itu adalah kenyataan aku mencitaimu

Aku adalah ketidaksanggupan mengelak, pada semesta yang berucap

Aku adalah kelemahan untuk bertahan pada ketanpaan

Dan aku adalah keberanian, dalam ketakukan-ketakutan yang menjelma pada keterlambatan 

Pada simpai pertautan, kita.

Dan waktu yang mengitari kita, adalah kebohongan-kebohongan dalam kejujuran masa.

Secoretsajak, “percakapan”

Sempat memicing batin_ mengeja sajakmu sejak malam itu_ diantarai malam-malam setelahnya, hingga malam ini.

Di gelap yang tak terlalu

Di remang yang tak begitu

Kita percakapkan kisah, kisah-pecakapan yang belum pernah kita percakapkan

Kita membuat sketsa sosok, di sudut-sudut kata yang seolah menutup telinga pada getar-getar yang menggerat bayangan kita

Di tengah kerlingan cahaya lampu, dan setiap kata yang bersahutan melembayung, aku berharap, kita bisa menyepakati untuktidak membuka lipatan maklumat kepada siapa saja yang tak kita kehendaki.

Aku harap kita bisa sepakat untuk hal yang itu

Bukan apa-apa

Karena aku, dan mungkin kau juga, pernah menukik dari deru yang memaksa dan mengharuskan kita merelakan. 

Aku pun sudah katakan, hal itu juga yang mengajarkan aku untuk tidak terlalu mengharap dan menyesali.

Hujan malam itu juga telah mengabarkan kepada dingin, tentang kata-kata yang tak ingin di ucap. Hingga ruang yang kita masuki, menggigil beku.

Secoretsajak, “cecar”

Aku tak pernah kalis dari rintih yang mungkin saja membuatmu kalut

Rasanya pagi tak akan memuai, dari riuh dalamku yang tak tertuai

Dan aku tetap percaya, rentetan riuh dan detik yang mengitari kita, tak akan meninggalkan kronik di tempat yang tak berdipan masa

Namun, jika aku mau, bisa saja aku jadikan setiap kata dalam perbincangan kita yang (menurutku) belum selesai itu, menjadi kayu bakar pada tungku kenangan yang tak pernah ingin kau sangga

Tapi kau tak perlu risau

Dapat aku pastikan

Senja takakan membiarkan cerpelainya menerkam senyummu

Begitu juga aku

Elegi malam

Riuh gaung bebunyian

Longlong anjing

Dengkur burung malam

Kerik berisik jangkrik menertawakan dingin

Siter-siteran membekuk hening

Diperdengarkan pada kolosium gelap

Meja coklat itu, berbinar, tertimpa kemuning cahaya lumpu pijar, bersorak, karena gelap tak lagi mengganggunya

Sementara si penggila sepi, bersimpuh seorang diri berhadapan sudut meja, dengan buku roman  bersampul usang, yang nampak pasrah acapkali tangannya mendekap dan menjamah setiap lebar-lembar halamannya.

Halaman 93 dan 95, selalu membuat dadanya menyesak dan kepalanya berat, meskipun sudah sangat sering dibacanya
Entah sudah berapa kali ia habiskan membaca buku usang itu, 

Dan di kalimat terakhir, pada halaman paling akhir, tak pernah membuatnya malu menjatuhkan air mata, meskipun ia sadar, ia laki-laki.

Secoretsajak, hujan malam ini”

Sebenarnya, kali ini aku tak ingin berbicara tentang hujan

Karena akan menyulut kehawatiran

kau pun telah tahu

Hujan selalu desertai hal-hal yang memaksa dikenang.

Aku ingin segalanya datar, tak terbentuk ceruk yang dapat membuat ingatan tentangmu menggenang bersama air hujan

Aku juga tak ingin bicara kopi, yang kini telah tandas tinggal ampas

Juga lagu yang baru aku dengar, semoga tak tersimpai malam itu, dalam liriknya

Awan malam yang menurunkan hujan, aku mintakan tolong untuk mensenyakpan riuh perbincangan kita yang belum juga senyap

Rerintik ini adalah jeritan angan terkekang

Yang belum juga reda

Secoretsajak, “perjalanan”

Perjalanan jauh

Kekosongan tampak di uwung

Membalik hari kemarin mencari makna

Membuka hari esok menerka misteri

Melipat hari ini mengukur sangsi

syukur ia

Terhuyung lembayung

Di ujung mata

Menyimpan sesak menyesak

Derai tangan menengadah

O, Tuhan

Adakah pengganti hadirnya?

Agar aku lekas dari perjalanan ini

Menghapus kepergian

Menyesap mangsa hari

Merengkuh angan

Membuang lemahku

Dan ketidaksanggupanku

Menepis rindu

Padanya

Secoretsajak, “sujud”

Aku merasa begitu lekat denganNya

Detak ini bersemayam di atas logika

Yang tersimpai dibalik napas, tak tertahan menapak menuju pangkal imaji

Tertapak pada bumi dengan sejajarnya, tapak sepasang lutut, dan jemari kaki yang ujung, telapak yang dua diantarai dahi merengkuh segala do’a

Menggema dalam nurani

Tuhanku yang suci, luhur dan maha tinggi

Aku memujiNya.

Secoretsajak, “i’tidal”

Bangun tergeriap dari ruku

Terayun tangan tinggi setinggi yang berdaun telinga

Usus tersentuh reaksi

Lambung tertuai relaksasi

Sumpah demi tuhan yang kasih dan sayang

Segalanya tertuang dalam puji yang tertuai

Dan semoga terterima pun terbalas olehnya, jiwa-jiwa yang merangkai puji itu

Terangkai dalam puji, langit, bumi, dan segala yang sesudahnya

Dalam kehendakNya

Secoretsajakshalat, “ruku'”

Menunduk lurus

Sejajar memangku detak dan pikiran

Semerahdarah tak terhalang menuju bilik tengahnya

Lutut pun menjadi tempat bertumpu tangan yang dua

Bola mata menatap jarijemari kaki

Kesempurnaan kali ini milik tulang belakang yang kokoh

Tak terperangai pada lekuk-lekuk yang mengapit

Tak akan terganggu pusat menyamai kehidupan yang sedia dimulai

DiriNya yang suci nun agung berderik dalam puji